TARAKAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Utara menggelar gladi simulasi vertical rescue guna menguji kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa bumi dan kebakaran gedung, khususnya di fasilitas pelayanan kesehatan. Kegiatan ini dilaksanakan di RSUD dr H Jusuf SK Tarakan, Senin (15/12).
Simulasi melibatkan lintas instansi, mulai dari unsur Forkopimda, instansi vertikal, BPBD Kota Tarakan, hingga tenaga kesehatan dan perwakilan DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Kegiatan secara resmi dibuka oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat mewakili Pemerintah Provinsi Kaltara.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kaltara Andi Andiampa, mengatakan simulasi ini bertujuan mengukur kecepatan respons, kesiapan personel, serta efektivitas koordinasi antarinstansi saat menghadapi kondisi darurat.
“Latihan ini kami gelar sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa bumi dan kebakaran bangunan, terutama di rumah sakit yang memiliki tingkat risiko tinggi,” ujar Andi.
Menurutnya, latihan kebencanaan tidak hanya menitikberatkan pada aspek teknis evakuasi, tetapi juga pembentukan mental dan keterampilan petugas di lapangan. Ia menegaskan bahwa kesiapan tidak dapat dibangun secara instan.
“Respons cepat perlu dibentuk melalui latihan yang berulang. Dengan begitu, petugas terbiasa mengambil keputusan di tengah situasi darurat,” katanya.
Dalam simulasi tersebut, diterapkan skenario evakuasi korban dari lantai atas gedung menggunakan teknik vertical rescue, lantaran akses tangga darurat dan jalur evakuasi digambarkan tidak dapat digunakan. Korban diturunkan menggunakan peralatan khusus sebelum dievakuasi menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Meski berlangsung lancar, Andi mengakui masih terdapat catatan evaluasi yang perlu diperbaiki, terutama terkait pematangan skenario dan penentuan titik evakuasi.
“Tadi korban diturunkan dari lantai enam ke lantai empat. Ke depan, seharusnya bisa langsung dievakuasi ke lantai satu agar tidak memerlukan tahapan lanjutan,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya setiap instansi memiliki rencana kontingensi dan rencana operasi yang jelas untuk seluruh jenis potensi bencana. Menurutnya, kesiapsiagaan harus dirancang secara menyeluruh dan berkelanjutan.
“Setiap potensi bencana membutuhkan rencana yang matang agar personel benar-benar siap saat kejadian sesungguhnya,” tegas Andi.
BPBD Kaltara juga mendorong setiap rumah sakit di wilayah Kalimantan Utara membentuk tim siaga bencana internal yang didukung sarana dan prasarana memadai. Ia menilai simulasi kebencanaan perlu dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.
“Latihan berkala penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan tenaga kesehatan, petugas rumah sakit, hingga memberikan edukasi awal bagi pasien,” tambahnya.
Dalam kegiatan ini, sebanyak 22 personel gabungan diterjunkan, terdiri dari BPBD Provinsi Kalimantan Utara, BPBD Kota Tarakan, serta tim K3 dan IGD RSUD dr H Jusuf SK.
Sementara itu, Koordinator Tim Fire and Rescue RSUD dr H Jusuf SK, Martinus Amir, mengatakan keterlibatan tim rumah sakit dalam simulasi tersebut menjadi pengalaman penting dalam menguji kemampuan evakuasi darurat.
“Awalnya kami hanya sebagai peserta, namun karena memiliki unit fire and rescue, kami ikut terlibat langsung dalam proses evakuasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, skenario simulasi menggambarkan kondisi korban terjebak akibat gempa atau kebakaran sehingga tidak memungkinkan dievakuasi melalui tangga darurat. Korban kemudian diturunkan menggunakan teknik wrapping sebelum dibawa ke IGD.
“Tugas BPBD menurunkan korban, sedangkan tim rumah sakit menerima dan membawa korban ke IGD,” jelasnya.
Menurut Martinus, selama simulasi tidak ditemukan kendala berarti. Namun ia menegaskan bahwa kekompakan tim menjadi faktor krusial apabila simulasi tersebut diterapkan dalam kondisi bencana yang sesungguhnya.
“Dalam kondisi riil tentu ada tantangan seperti asap, reruntuhan, dan kepanikan. Tapi latihan ini cukup baik untuk membangun kekompakan tim,” katanya.
Ia menambahkan, simulasi kebencanaan merupakan bagian dari standar akreditasi rumah sakit dan wajib dilaksanakan secara rutin, minimal dua kali dalam setahun.
“Dengan latihan rutin, kepanikan dapat diminimalkan dan penanganan korban bisa dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi,” pungkasnya. (zar/jnr)