Keluarga Radit, Muhammad Sajidan mengatakan, penyakit yang diderita Radit adalah guillain barre syndrome. Penyakit yang cukup langka. Ia menjelaskan, sakit yang dialami adiknya itu memerlukan perawatan khusus dan pengobatan rutin.Hanya, harapannya untuk terus berobat secara rutin terbentur biaya.
"Baru lulus sekolah usianya masih 18 tahun terkena penyakit langka GBS (guillain bare syndrome) penyakit ini memang penyakit auto imun langka. Pihak RSUD sendiri mengatakan penyakit ini terakhir ada 15 tahun lalu mereka tangani. Di Indonesia juga sangat jarang terjadi, sehingga kondisi ini membuat adik saya hanya bisa berbaring," ujarnya, Rabu (5/7).
GBS merupakan penyakit saraf yang sebetulnya jarang ditemukan. Penyakit ini menyerang sistem saraf tepi, yaitu sistem saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang. GBS dapat menyerang semua usia, walaupun lebih sering ditemukan pada orang dewasa dan lanjut usia. Perempuan dan laki-laki memiliki risiko yang sama untuk terserang GBS. Diestimasikan GBS menyerang 100.000 orang setiap tahunnya.
Lanjut Sajidan, jauh sebelum divonis GBS adiknya itu memiliki fisik yang sehat seperti remaja lainnya. Awal penyakit itu muncul, keram di sekujur tubuh dan akhirnya tidak dapat mengerakkan badan dan harus dilarikan ke rumah sakit.
"Gejala awalnya 3 bulan yang lalu, tiba-tiba tangan dan kakinya keram, terus tidak bisa bangun.Sempat gagal napas tapi akhirnya bisa bernapas kembali pelan-pelan. Memang kalau bicara penyakit ini yang sebenarnya paling dibutuhkan itu obatnya. Obatnya cukup mahal, sebenarnya sudah ada kesepakatan dengan pengobatan dan lain-lainnya, cuma belum ada tindaklanjutnya," terangnya.
Ia mengakui, Radit merupakan adik sepupunya yang berasal dari keluarga yang sederhana. Sehingga pihaknya telah berupaya mencoba membantu keluarga Radit dari segi pembiayaan. Kendati begitu kemampuan keluarga juga terbatas. Bahkan obat-obatan Radit dari resep dokter tidak dapat mereka tebus di apotek. Adapun jaminan kesehatan dari pemerintah hanya menanggung biaya perawatan saja.
"Orangtuanya bekerja serabutan, sehingga hanya mencukupi untuk makan, tidak untuk pengobatan sehari-hari. Kami berharap ada uluran tangan pemerintah membantu adik sepupu saya ini," terangnya.
"Sampai saat ini saja kami tidak bisa menebus obatnya sebesar Rp 800 ribu. Kami sudah melaporkan kondisi ini ke Dinsos karena rumah sakit tidak boleh membebankan obat kepada pasien sampai sekarang kami masih menunggu respons Dinsos," tukasnya. Sehingga, ia berharap pemerintah atau masyarakat dapat memberikan perhatian terhadap hal ini.
"Sementara setiap hari adik saya ini memerlukan popok dan obat-obatan. Rencana kami ke Baznas menceritakan kondisi kami. Kami benar-benar sudah bingung dan tidak tahu harus mencari biaya ke mana," pungkasnya. (zac/lim) Editor : Azwar Halim