
TARAKAN - Aktivitas perekonomian Kota Tarakan menunjukkan pertumbuhan pada triwulan II 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan, ekonomi Tarakan tumbuh 4,77 persen secara tahunan atau year-on-year (y-on-y) dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi mengatakan, pertumbuhan tersebut tercermin dari nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku yang mencapai Rp 16,20 triliun. Sementara PDRB atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp 7,38 triliun.
“Ekonomi Kota Tarakan triwulan II-2026 terhadap triwulan II-2025 tumbuh sebesar 4,77 persen,” ujarnya, Jumat (11/9).
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha jasa perusahaan yang tumbuh 11,56 persen. Kemudian administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib tumbuh 11,14 persen.
Sementara itu, dari 17 lapangan usaha yang menjadi komponen PDRB, terdapat empat lapangan usaha yang mengalami kontraksi. Konstruksi mencatat kontraksi paling besar, yakni 2,07 persen. Disusul pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang yang terkontraksi 0,54 persen.
"Adapun sektor perdagangan, reparasi mobil dan sepeda motor yang memiliki peran dominan dalam struktur perekonomian Tarakan tetap menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 8,82 persen," urainya.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi berasal dari pengeluaran konsumsi pemerintah yang mencapai 17,15 persen. Selanjutnya pengeluaran konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh 4,97 persen dan pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 4,79 persen.
Namun, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) masih mengalami kontraksi sebesar 0,25 persen. "Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, ekonomi Tarakan pada triwulan II 2026 juga tumbuh 2,04 persen secara q-to-q. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh sejumlah sektor jasa," jelasnya.
Dari sisi produksi, jasa kesehatan dan kegiatan sosial menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 9,98 persen. Berikutnya jasa pendidikan tumbuh 8,99 persen dan pengadaan listrik dan gas sebesar 6,58 persen.
"Sebaliknya, lapangan usaha pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi 2,74 persen. Kontraksi dengan besaran yang sama juga terjadi pada administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib," terangnya.



