Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Katanya di Tiongkok Transaksi Sudah Cashless, Ternyata Begini Faktanya

Radar Tarakan • Rabu, 12 Maret 2025 | 15:50 WIB
FOTO: NUR RAHMAN/RADAR TARAKAN BISA BAYAR CASH: Rombongan Kaltim Post Group saat santap siang di salah satu restoran di Beijing.
FOTO: NUR RAHMAN/RADAR TARAKAN BISA BAYAR CASH: Rombongan Kaltim Post Group saat santap siang di salah satu restoran di Beijing.

Catatan Perjalanan Kaltim Post Group ke Negeri Tirai Bambu (2)

Kalau kita browse di Tiktok, banyak konten yang bilang Tiongkok tidak lagi pakai uang tunai untuk transaksi. Fakta lucunya adalah, Tiktok saja dilarang di sana.

NUR RAHMAN, Beijing

Referensi soal alat tukar bertransaksi ini jadi salah satu yang saya cari tahu. Sebelum berangkat, bahkan salah satu anggota rombongan menelepon saya, khusus mendiskusikan ini.

“Man, sudah instal Alipay? Punyaku nggak bisa connect sama akun bank,” kata Maulana, Pemimpin Redaksi Radio KPFM, Januari lalu, dua minggu sebelum keberangkatan kami dari Jakarta ke Beijing.

Alipay yang dia maksud adalah one stop e-wallet di Tiongkok. Buatan Alibaba Group, serupa Gopay di Indonesia. Bisa untuk pembayaran, transportasi, jasa kurir, pesan makan, dan lainnya.

“Aku lihat di Tiktok, di sana harus pakai itu (Alipay). Tapi aku tukar uang yuan juga ini buat jaga-jaga,” kata Maulana.

Saya yang bimbang, akhirnya tetap membawa yuan, dan menginstal alipay dengan kartu debit saya. Tapi keraguan itu langsung terjawab pada hari pertama kami di Beijing.

Setelah menyambangi Tienanmen dan Forbidden City, kami diberi sesi bebas. Lokasinya di kawasan Wangfujing, salah satu pusat perbelanjaan di Beijing. Di sana, transaksi pertama saya di Tiongkok berlangsung.

Tenant-nya adalah Starbuck Coffee. Dan ternyata, mereka menerima cash. Begitupun tenant lain di mall tersebut. Artinya, konten Tiktok soal Tiongkok tak lagi pakai uang tunai, terpatahkan.

“Logikanya, kalau di mall aja masih bisa tunai, toko-toko kecil harusnya juga bisa,” ucap Nanda, staf desain dari Kaltim Post.

Sebagai informasi, harga kopi yang saya pesan seharga 32 yuan untuk ukuran medium cup. Sekitar Rp 64 ribu. Tidak jauh beda dengan harga di Indonesia, walaupun level upah di sana jauh lebih tinggi.

“Yang terasa beda sekali, petugas Starbucks di Tiongkok tidak bisa bahasa Inggris. Bahkan untuk sekadar menyebut menu kopi, dia harus menunjukkan gambar di buku menu,” kata Dimas Satriya, direktur Samarinda Pos.

Wangfujing yang kami datangi, merupakan kawasan mall di pusat kota Beijing. Di sini, pengunjung bisa menemukan official international store dari berbagai brand. Dari apparel olahraga seperti Nike dan Adidas, atau gadget seperti Apple dan Huawei.

“Di Beijing, took Huawei di mall juga jual mobil yah. Xiaomi juga. Banyak turis datang ke sini mau lihat mobil itu,” kata Miss Yang, local guide kami.

Dari catatan kedua Radar Tarakan di Tiongkok ini, kami memberikan sejumlah tips seputar transaksi, untuk Anda uang berkunjung ke sana:

- Tetap bawa uang tunai (yuan), karena di semua jenis toko, transaksi masih menerima uang tunai

- Siapkan kartu debit/kredit internasional dari bank (visa, mastercard, dsb), karena bisa dipakai, terutama di toko-toko besar/resmi

- Jangan tukar yuan terlalu banyak, karena jika masih tersisa saat kembali ke Indonesia, harga buyback lebih rendah dari harga beli

- Instal Alipay agar lebih praktis, tapi perhatikan keamanan data perbankan yang disnkronkan

Editor : Azwar Halim
#tiongkok #Negeri Tirai Bambu #wisata #cashless #perjalanan #Kaltim Post Group #transaksi