TARAKAN - Kerukunan antarumat beragama di Kota Tarakan diminta tetap dijaga menyusul viralnya aksi pelecehan terhadap kitab suci Al-Qur'an di media sosial. Aksi yang menjadikan ayat suci Al-Qur'an sebagai materi challenge dan dikaitkan dengan hadiah minuman keras (miras) tersebut dinilai berpotensi memicu keresahan serta mencederai toleransi yang selama ini terbangun.
Ketua PURT Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Hasan Basri mengecam keras aksi tersebut. Senator asal Kalimantan Utara (Kaltara) itu menilai penggunaan ayat suci sebagai bahan permainan merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan dan harus diproses sesuai ketentuan hukum.
"Tindakan ini tidak bisa ditoleransi. Menjadikan ayat suci Al-Qur'an sebagai bahan permainan atau tantangan, terlebih dikaitkan dengan minuman keras, adalah bentuk penistaan agama yang mencederai kerukunan dan nilai-nilai toleransi beragama yang selama ini kita junjung tinggi," ujar Hasan Basri dalam keterangannya, Rabu (12/8).
Hasan Basri juga mengapresiasi langkah cepat aparat kepolisian dalam merespons kasus tersebut. Namun, dia meminta proses penanganan tidak berhenti pada penangkapan, melainkan dilakukan secara menyeluruh hingga memberikan kepastian hukum.
"Kami mengapresiasi langkah cepat pihak kepolisian. Selanjutnya, kami mendorong agar kasus ini diusut tuntas tanpa pandang bulu dan diproses sesuai hukum yang berlaku, agar memberikan efek jera serta pembelajaran bagi masyarakat luas agar tidak ada lagi pihak yang melecehkan simbol-simbol agama apa pun," tegasnya.
Menurutnya, kejadian serupa harus menjadi perhatian bersama, khususnya di daerah yang memiliki keberagaman masyarakat seperti Tarakan. Dia meminta seluruh pihak menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh keadaan.
Hasan Basri juga mengimbau masyarakat tidak mudah terpancing oleh konten provokatif di media sosial. Dia berharap persoalan tersebut menjadi pembelajaran agar kebebasan dalam menggunakan media sosial tetap disertai tanggung jawab dan penghormatan terhadap keyakinan orang lain.
"Jangan sampai kejadian seperti ini terjadi di Kaltara. Kita harus menjaga kerukunan yang sudah terbangun. Mari kita bersama-sama bijak dalam memanfaatkan teknologi dan media sosial dengan tetap saling menghormati antarumat beragama," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT