Kelompok LGBT di Tarakan Sering Berkumpul di Kafe, Ini Kata Pendamping ODHIV

Zakaria RT • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 17:25 WIB
SWEPING: Aksi Sweping kelompok LGBT khususnya “boti” oleh sekelompok pemuda di Kota Tarakan. TANGKAPAN LAYAR
SWEPING: Aksi Sweping kelompok LGBT khususnya “boti” oleh sekelompok pemuda di Kota Tarakan beberapa waktu lalu. TANGKAPAN LAYAR

TARAKAN - Rencana razia terhadap kelompok LGBT yang menjadi perhatian sejumlah elemen masyarakat di Kota Tarakan tak terkecuali pendamping Orang dengan HIV (ODHIV).

Saat dikonfirmasi, salah seorang pendamping ODHIV di Tarakan berinisial HD mengatakan, pihaknya memahami keresahan masyarakat terhadap fenomena LGBT yang belakangan menjadi sorotan. Menurutnya, penyampaian aspirasi maupun upaya penertiban sah dilakukan selama tidak bertentangan dengan aturan perundang-undangan dan tidak mengganggu ketertiban umum.

"Pada dasarnya saya setuju-setuju saja, karena itu juga bagian dari hak kelompok masyarakat. Yang terpenting tidak melanggar norma dan undang-undang yang berlaku,” ujarnya kepada Radar Tarakan, Senin (27/7).

“Namun alangkah baiknya jika tindakan tersebut mengantongi izin resmi dan dilakukan dengan iktikad baik, tanpa ada unsur kekerasan, keributan ataupun keonaran yang mengganggu ketertiban umum. Sebab kalau asal sweeping, masyarakat sekitar juga bisa terganggu," sambungnya.

Ia menilai langkah yang lebih efektif adalah melakukan pembinaan melalui pemerintah dan instansi terkait. Dengan demikian, persoalan sosial dapat ditangani tanpa menimbulkan persoalan baru maupun menghambat upaya kesehatan masyarakat.

"Kami dari pihak pendamping justru sangat mendukung kalau ada pembinaan yang benar. Dipanggil, dikumpulkan, lalu dibina tanpa kekerasan," katanya.

Menurutnya, selama ini keberadaan kelompok LGBT di Tarakan tidak berbentuk organisasi resmi. Mereka lebih banyak bergerak dalam kelompok-kelompok kecil yang bersifat tertutup sehingga sulit dipantau secara langsung.

"Secara resmi komunitas yang terorganisasi itu tidak ada. Mereka hanya berupa kelompok-kelompok kecil. Untuk masuk ke dunia mereka pun tidak semudah kita berteman pada umumnya dan tidak seperti lokasi lokalisasi. Cara mereka terbilang rapi, eksklusif dan sembunyi-sembunyi," tuturnya.

Dirinya mengungkapkan, Adapun kegiatan yang mereka lakukan bukan pesta liar, tapi hanya bertemu dan berkumpul, di mana biasanya dilakukan di kafe-kafe tertentu dan hampir setiap malam ada yang berkumpul di sana," ungkapnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
lgbt tarakan