TARAKAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan memastikan pelaksanaan Iraw Tengkayu 2026 akan lebih banyak melibatkan pelaku seni dan budaya lokal. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat sekaligus memberikan ruang bagi seniman daerah untuk tampil dan berkembang melalui perhelatan budaya tahunan tersebut.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Tarakan, M. Zainuddin Mas’ud A.H mengatakan, keberadaan pelaku seni lokal harus menjadi bagian utama dalam setiap kegiatan kebudayaan daerah. Dengan begitu, manfaat penyelenggaraan tidak hanya dirasakan pengunjung, tetapi juga masyarakat yang terlibat langsung dalam prosesnya.
“Kalau bersamaan dengan momentum lain konsentrasi masyarakat bisa terpecah, sehingga dicarikan hari yang pas kebetulan bertepatan dengan libur sekolah, jadi kita majukan supaya semua masyarakat bisa datang menyaksikan,” ujarnya, Selasa (23/6).
Menurutnya, Pemkot Tarakan berkomitmen mengutamakan sumber daya daerah dalam pelaksanaan berbagai kegiatan yang masuk dalam rangkaian Iraw Tengkayu. Para pengisi acara nantinya akan lebih banyak berasal dari kalangan seniman, budayawan, komunitas, dan pelaku seni lokal.
Pelaksanaan Iraw Tengkayu tahun ini juga akan dirangkaikan dengan Pekan Kebudayaan Daerah yang menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi wadah promosi sekaligus pemberdayaan budaya, termasuk seni dan kuliner dari berbagai suku bangsa yang hidup dan berkembang di Kota Tarakan.
“Begitu juga antar daerah, kalau sama-sama di bulan Oktober, masing-masing daerah sibuk dengan agenda Iraw-nya sendiri, sehingga kunjungan antar daerah jadi terhambat. Dengan penyesuaian ini, kita membuka ruang saling kunjung, termasuk saat ada kegiatan di daerah lain seperti Malinau,” terangnya.
Selain sebagai ajang promosi budaya, Pekan Kebudayaan Daerah juga diharapkan menjadi ruang pertukaran budaya dengan daerah lain. Penyesuaian jadwal Iraw Tengkayu ke awal Juli dilakukan agar tidak berbenturan dengan agenda budaya kabupaten dan kota lain di Kalimantan Utara.
“Pekan Kebudayaan Daerah ini merupakan kegiatan untuk mempromosikan dan memberdayakan budaya, termasuk seni dan kuliner dari berbagai suku bangsa. Kegiatan ini juga menjadi ruang pertukaran budaya di daerah,” lanjutnya.
Meski mengutamakan potensi lokal, pemerintah tetap membuka peluang kerja sama dengan sponsor maupun pihak eksternal untuk mendukung berbagai kegiatan hiburan dan acara pendukung lainnya.
“Kita dorong pengisi acara dari lokal karena ini menjadi ruang bagi pelaku seni daerah untuk tampil dan berkembang. Masyarakat kita sendiri yang menjadi bagian utama dalam pelaksanaan kegiatan ini,” tegasnya.
Berdasarkan jadwal yang telah disusun, rangkaian kegiatan Iraw Tengkayu 2026 akan dimulai pada 4 Juli dengan arak-arakan Padaw yang menjadi tradisi khas masyarakat Tidung. Kegiatan tersebut akan diramaikan lomba kendaraan hias, sepeda hias, dan pawai pejalan kaki yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Pada 5 Juli, kegiatan dilanjutkan dengan Pentas Seni Budaya Nusantara sejak pagi hari hingga menjelang prosesi utama. Puncak Iraw Tengkayu 2026 dijadwalkan berlangsung pukul 14.00 WITA melalui prosesi penurunan Padaw.
“Kemudian pada 5 Juli, kegiatan berlanjut dengan Pentas Seni Budaya Nusantara yang berlangsung sejak pagi hari. Berbagai pertunjukan seni tradisional dari beragam etnis akan ditampilkan hingga menjelang prosesi utama. Puncak Iraw Tengkayu 2026 dijadwalkan berlangsung pada pukul 14.00 WITA melalui prosesi penurunan Padaw yang menjadi puncak Iraw Tengkayu,” katanya.
Setelah prosesi adat selesai, rangkaian acara akan ditutup dengan panggung hiburan rakyat di kawasan Taman Berkampung. Seluruh rangkaian kegiatan diharapkan semakin memperkuat identitas budaya masyarakat Tarakan sekaligus mendukung sektor pariwisata daerah.
“Iraw Tengkayu menjadi ruang ekspresi budaya masyarakat Tarakan dan terus dijaga keberlangsungannya sebagai bagian dari identitas budaya daerah,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT