TARAKAN – Upaya RSUD dr Jusuf SK Tarakan mencari dokter subspesialis bedah saraf anak untuk mengisi kekosongan layanan ternyata sempat mendapat solusi dari Kementerian Kesehatan. Rumah sakit rujukan Provinsi Kalimantan Utara itu pernah ditawari seorang dokter subspesialis bedah saraf anak lulusan Cina untuk ditempatkan di Tarakan.
Namun rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena adanya ketentuan yang mewajibkan dokter lulusan baru tersebut didampingi dokter subspesialis senior yang memiliki kompetensi serupa.
Plt Direktur RSUD dr Jusuf SK Tarakan, dr. Budy Azis B., Sp.PK, mengatakan berbagai upaya telah dilakukan pihak rumah sakit untuk mengatasi kekosongan dokter bedah saraf anak yang terjadi sejak dokter sebelumnya memilih bekerja di luar daerah. Menurutnya, pencarian dokter subspesialis tidak hanya dilakukan melalui rumah sakit pendidikan di Indonesia, tetapi juga melibatkan Kementerian Kesehatan.
“Waktu mencari dokter subspesialis ini kami sudah mendatangi banyak rumah sakit pendidikan, termasuk ke UGM, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) Jakarta sampai ke Kementerian Kesehatan. Alhamdulillah saat itu ada solusi dari Kementerian,” katanya, Minggu (21/6).
Solusi yang dimaksud adalah rencana penempatan seorang dokter Indonesia yang baru menyelesaikan pendidikan subspesialis bedah saraf anak di Cina untuk bertugas di RSUD dr Jusuf SK Tarakan. “Kemarin dari Kementerian ada dokter baru lulusan dari Cina. Orang Indonesia, tetapi baru selesai pendidikan di sana dan rencananya akan ditempatkan di RSUD Jusuf SK,” ujarnya.
Namun setelah dilakukan pembahasan lebih lanjut, muncul kendala administratif dan teknis. Dokter lulusan baru tersebut diwajibkan menjalani masa pendampingan sebelum dapat menangani kasus secara mandiri.
Persoalannya, RSUD dr Jusuf SK justru sedang mengalami kekosongan dokter bedah saraf anak sehingga tidak memiliki tenaga subspesialis yang dapat menjalankan fungsi pendamping tersebut. “Ternyata dokter itu harus ada pendampingnya dan harus ada dokter bedah saraf anak di sini. Nah, itu yang menjadi kendala,” katanya.
Manajemen rumah sakit kemudian mencoba mencari alternatif dengan mengusulkan agar proses pendampingan dilakukan oleh dokter subspesialis dari luar daerah, termasuk dari Balikpapan. Awalnya usulan tersebut mendapat respons positif. Namun setelah dilakukan pembahasan lebih lanjut, rencana itu tidak mendapatkan persetujuan.
“Kami sempat mencari solusi, apakah pendampingnya bisa dari Balikpapan. Awalnya diperbolehkan, tetapi kemudian ada perubahan keputusan sehingga tidak bisa dilaksanakan,” jelasnya.
Menurutnya, salah satu pertimbangan yang muncul adalah perlunya adaptasi terhadap karakteristik kasus medis di Indonesia. Meskipun dokter tersebut merupakan warga negara Indonesia, pendidikan subspesialis yang dijalani di luar negeri tetap memerlukan proses pendampingan sebelum menangani pasien secara penuh.
“Mungkin karena kasus-kasus bedah saraf yang ditemui selama pendidikan di Cina berbeda dengan yang ada di Indonesia. Faktor pola hidup, karakteristik penyakit dan berbagai kondisi lainnya juga menjadi pertimbangan sehingga tetap membutuhkan pendampingan,” ujarnya.
Gagalnya rencana tersebut membuat RSUD dr Jusuf SK kembali melanjutkan pencarian dokter subspesialis bedah saraf melalui berbagai jalur. Salah satunya dengan menjalin komunikasi intensif dengan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) Jakarta.
Budy mengatakan pihaknya telah mengirim surat resmi kepada manajemen Rumah Sakit PON dan dijadwalkan melakukan pertemuan pada awal Juli mendatang untuk membahas kemungkinan dukungan tenaga medis.
“Segala macam cara sudah kami lakukan. Insya Allah awal bulan depan kami akan ke Rumah Sakit PON lagi. Kemarin sudah bersurat, tetapi belum sempat bertemu direksinya sehingga dijadwalkan ulang pada awal Juli,” katanya.
Selain mencari dokter dari luar daerah, RSUD dr. H. Jusuf SK juga menyiapkan solusi jangka panjang melalui program pendidikan dokter subspesialis bagi putra daerah Kalimantan Utara. Saat ini terdapat seorang dokter asal Kaltara yang sedang menempuh pendidikan subspesialis bedah saraf dan diperkirakan menyelesaikan studi dalam dua tahun ke depan.
Sementara itu, rumah sakit masih berharap adanya lulusan baru dari sejumlah pusat pendidikan dokter subspesialis di Indonesia pada pertengahan tahun ini yang bersedia bertugas di Tarakan. “Kami mendapat informasi kemungkinan ada lulusan baru pada Juli dan Agustus. Mudah-mudahan ada yang bersedia bergabung dengan RSUD dr Jusuf SK sehingga pelayanan bedah saraf bisa kembali optimal,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT