TARAKAN – Tidak adanya dokter subspesialis bedah saraf anak di RSUD dr Jusuf SK, menjadi perhatian serius Burhan yang merupakan orang tua dari seorang anak yang sedang terbaring koma.
Tidak adanya dokter subspesialis bedah saraf anak untuk menangani anak bungsunya, membuat Burhan sebagai orang tua merasa khawatir. Kekhawatiran itu muncul karena cedera yang dialami anaknya membutuhkan penanganan khusus.
Awalnya keluarga juga sempat salah paham dengan dokter yang menangani anaknya. Namun setelah bertemu langsung dan mendapatkan penjelasan, Burhan mengakui dokter tersebut telah berusaha memberikan pelayanan maksimal sesuai kemampuan rumah sakit.
“Tadi pagi saya bertemu langsung dengan dokter. Beliau bilang sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya juga memahami karena memang kondisi di sini terbatas. Ternyata sebelumnya hanya terjadi miskomunikasi yang membuat istri saya panik,” katanya.
Sebelumnya Burhan mengalami kecelakaan tunggal bersama istri dan dua anaknya pada 16 Juni lalu. Saat itu ia mengendarai sepeda motor bersama istri dan dua anaknya di kawasan depan Bandara Juwata Tarakan. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab kecelakaan tersebut. Menurutnya, tidak ada tabrakan dengan kendaraan lain maupun faktor mengantuk saat berkendara.
“Tidak ada tabrakan. Saya juga tidak mengantuk. Tiba-tiba saja penglihatan saya seperti gelap, lalu motor langsung mengarah ke kiri dan masuk ke dalam parit,” ujarnya.
Akibat kejadian itu, Burhan bersama istri dan anaknya mengalami luka-luka. Namun kondisi terparah dialami anak bungsunya yang berusia lima tahun. Saat kecelakaan terjadi, anak tersebut mengalami benturan di bagian kepala hingga menyebabkan cedera serius.
“Yang paling parah si ade (anak). Dari luar tidak banyak luka, tetapi ternyata ada cedera di kepala. Sampai sekarang masih koma dan belum ada respons,” katanya.
Adanya keluhan masyarakat terkait tidak tersedianya dokter subspesialis bedah saraf anak di RSUD dr Jusuf SK mendapat tanggapan dari manajemen rumah sakit. Di mana diketahui saat ini layanan tersebut memang mengalami kekosongan setelah dokter yang sebelumnya bertugas memilih melanjutkan pekerjaan di luar daerah.
Saat dikonfirmasi, Plt Direktur RSUD dr. Jusuf SK Tarakan, dr. Budy Azis B., Sp.PK., MH, mengatakan, dokter subspesialis bedah saraf anak terakhir memberikan pelayanan hingga Mei 2026. Upaya perpanjangan kontrak sebenarnya telah dilakukan, namun dokter yang bersangkutan memutuskan menerima kontrak kerja di Palangkaraya.
“Mau diperpanjang kontraknya, tetapi beliau sudah bekerja di Palangkaraya dan sudah kontrak sejak Juni. Beliau orang Semarang, sehingga memilih lokasi yang lebih dekat dengan kampung halamannya. Kalau ke Tarakan katanya terlalu jauh, sementara dari Palangkaraya lebih mudah menuju Semarang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejak akhir Mei 2026 RSUD Jusuf SK tidak lagi memiliki dokter subspesialis bedah saraf anak. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena dokter dengan kompetensi tersebut tergolong langka di Indonesia.
Menurut Budy, pihak rumah sakit telah melakukan berbagai upaya untuk mencari pengganti, termasuk berkomunikasi dengan sejumlah rumah sakit pendidikan seperti Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan RSUP dr Kariadi Semarang.
“Kami sudah berkomunikasi dengan beberapa rumah sakit pendidikan. Informasi yang kami terima, lulusan baru dokter spesialis kemungkinan akan tersedia setelah Juli. Karena itu kami diminta menunggu hingga Agustus,” terangnya.
Selain mencari dokter baru, RSUD Jusuf SK juga telah menawarkan berbagai insentif untuk menarik minat dokter subspesialis agar bersedia bertugas di Tarakan. Fasilitas yang ditawarkan meliputi insentif lebih tinggi dibandingkan dokter spesialis lain, kendaraan operasional hingga rumah kontrakan.
“Kami sudah mencoba berbagai cara. Insentifnya kami berikan lebih tinggi, fasilitas kendaraan dan rumah juga disediakan. Tetapi banyak dokter yang mempertimbangkan faktor keluarga, pendidikan anak, dan jarak dari kampung halaman,” katanya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT