TARAKAN – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kerap menjadi indikator utama untuk menilai kondisi ketenagakerjaan suatu daerah. Namun Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan menegaskan bahwa rendahnya angka pengangguran belum tentu mencerminkan kualitas ketenagakerjaan yang baik.
Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi mengatakan, masih banyak indikator lain yang harus diperhatikan untuk melihat kondisi pasar kerja secara lebih komprehensif. “Sekarang saya ingin menggambarkan juga, tingkat pengangguran terbuka itu bukan satu-satunya ukuran,” ujarnya.
Menurut Umar, definisi bekerja dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) relatif longgar. Seseorang sudah dikategorikan bekerja apabila melakukan aktivitas yang menghasilkan atau membantu memperoleh pendapatan minimal satu jam dalam satu minggu.
“Jadi misalnya hari Senin 15 menit, Selasa 15 menit, Rabu 15 menit, Kamis 15 menit, kalau totalnya satu jam dalam seminggu, itu sudah dikatakan bekerja,” jelasnya.
Karena itu, seseorang yang masuk kategori bekerja belum tentu memiliki pekerjaan yang layak atau pendapatan yang mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Umar menilai perhatian pemerintah dan masyarakat seharusnya juga diarahkan pada kualitas pekerjaan yang tersedia, termasuk proporsi pekerja formal dan informal.
“Karena definisi bekerja itu sangat mudah, maka yang jadi perhatian juga adalah pekerja formal dan informal,” katanya.
Menurutnya, semakin besar jumlah pekerja formal, semakin baik kondisi ketenagakerjaan suatu daerah. Pekerjaan formal dinilai lebih menjamin kepastian pendapatan, perlindungan tenaga kerja, serta keberlanjutan ekonomi keluarga.
“Kita berharap makin banyak masyarakat bekerja di sektor formal dibanding informal. Karena ini yang bisa menjamin kelayakan hidup yang lebih sustainable dibandingkan pekerja informal,” ujarnya.
Berdasarkan data BPS, TPT Kota Tarakan pada Agustus 2025 tercatat sebesar 5,06 persen, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 5,11 persen. Jumlah pengangguran juga menurun dari 6.216 orang menjadi 6.064 orang.
Meski tren tersebut positif, Umar mengingatkan bahwa tantangan ketenagakerjaan ke depan bukan hanya menekan angka pengangguran, tetapi juga menciptakan lapangan kerja yang berkualitas dan mampu menyerap tenaga kerja produktif secara berkelanjutan.
“Yang terpenting bukan sekadar bekerja, tetapi bagaimana masyarakat memiliki pekerjaan yang layak, produktif, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT