TARAKAN - Ratusan umat Buddha di Kota Tarakan melaksanakan ibadah Hari Raya Waisak 2569 BE di Vihara Vajra Bumi Dipa pada Minggu (31/5) pagi. Pelaksanaan ibadah yang mengusung tema Dharma Menjaga Perdamaian Dunia berlangsung dengan khidmat. Hal itu merespon kondisi saat ini yang dinilai dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Selain itu perayaan Waisak tidak hanya diisi dengan kegiatan ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kepedulian sosial dalam rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan selama sebulan penuh sebelum mencapai puncak perayaan Waisak yang jatuh pada hari ini.
Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama Kota Tarakan, Rudi Pratama menjelaskan, rangkaian kegiatan Waisak di Vihara Vajra Bumi Dipa telah dimulai sejak beberapa pekan lalu dengan melibatkan umat dari berbagai kelompok usia.
“Kegiatan Waisak tahun ini kami awali dengan donor darah dan pembagian sembako kepada masyarakat yang membutuhkan. Kegiatan sosial ini menjadi bentuk kepedulian umat Buddha kepada sesama tanpa memandang latar belakang,” ujarnya.
Lanjutnya, setelah kegiatan sosial, rangkaian Waisak dilanjutkan dengan berbagai perlombaan bagi anak-anak Sekolah Minggu Buddha. Kegiatan tersebut bertujuan menanamkan nilai-nilai keagamaan sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Buddhis.
“Pada minggu kedua kami mengadakan berbagai lomba untuk anak-anak Sekolah Minggu seperti membaca mantra, menyanyi dan memainkan alat musik. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran sekaligus mempererat kebersamaan antaranak-anak,” katanya.
Diungkapkannya, memasuki pekan ketiga, kegiatan difokuskan pada permainan dan aktivitas yang bersifat rekreatif. Menurutnya, kegiatan tersebut dirancang untuk membangun kerja sama, kekompakan, dan semangat kebersamaan di kalangan umat. Sementara pada pekan terakhir menjelang puncak Waisak, umat melaksanakan ritual mandi rupang atau memandikan patung Buddha yang menjadi tradisi penting dalam perayaan Waisak.
“Ritual mandi rupang selalu kami laksanakan setiap perayaan Waisak. Kegiatan ini memiliki makna penyucian diri, membersihkan pikiran dan perbuatan agar menjadi pribadi yang lebih baik,” jelasnya.
Rudi menuturkan, puncak peringatan Waisak tahun ini dilaksanakan pada pukul 04.50 Wita sesuai dengan perhitungan astronomis yang menjadi dasar penentuan detik-detik Waisak setiap tahunnya. Pada perayaan tahun ini, umat Buddha mengusung tema nasional yang telah ditetapkan oleh Kementerian Agama, yakni ‘Dharma Menjaga Perdamaian Dunia’. Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi masyarakat yang saat ini membutuhkan semangat persatuan dan toleransi.
“Setiap tahun waktunya berbeda-beda. Kadang malam, siang ataupun sore. Penentuannya berdasarkan perhitungan yang sudah ditetapkan dalam kalender Buddhis. Maknanya adalah ketika kita menjalankan ajaran Dharma atau ajaran Buddha, maka kita harus mampu menjaga kedamaian mulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, lingkungan sekitar hingga masyarakat yang lebih luas. Perdamaian dunia berawal dari kedamaian dalam diri masing-masing,” ungkapnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT