TARAKAN – Kenaikan tarif transportasi, khususnya angkutan udara, belum mampu menahan laju penurunan harga di Kota Tarakan. Pada April 2026, kota ini justru mencatat deflasi sebesar 0,06 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan, Umar Riyadi mengungkapkan, sektor transportasi tetap menjadi penyumbang inflasi terbesar, meski secara keseluruhan tertutupi oleh penurunan harga pangan.
“Ada komoditas yang mengalami kenaikan, seperti angkutan udara yang dipengaruhi kenaikan harga avtur dan kebijakan tarif batas atas. Ini memberikan andil inflasi,” jelasnya.
BPS mencatat, kelompok transportasi menyumbang inflasi sebesar 0,17 persen, disusul sektor penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,03 persen.
Namun, tekanan inflasi tersebut kalah kuat dibanding penurunan harga pada kelompok pangan. “Penurunan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan beberapa komoditas lain membuat deflasi lebih dominan,” ujarnya.
Umar juga menjelaskan bahwa inflasi Tarakan mulai kembali ke pola normal setelah sebelumnya dipengaruhi faktor basis rendah (low base effect), terutama akibat kebijakan diskon tarif listrik di awal tahun.
“Memasuki April, efek tersebut mulai hilang sehingga inflasi kembali ke pola normal dan mendekati target,” katanya.
Secara tahunan, inflasi Tarakan tercatat 2,90 persen, masih sejalan dengan capaian provinsi dan nasional yang masing-masing berada di angka 2,68 persen dan 2,42 persen.
Ke depan, BPS memproyeksikan inflasi akan tetap berada dalam kisaran terkendali jika pola harga tidak mengalami perubahan signifikan. “Kalau pola musiman tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, inflasi sampai akhir tahun diperkirakan berada di sekitar 2,9 persen,” tutupnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT