Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Luruskan Infromasi Flu Burung yang Viral di Medsos, Ini Penjelasan Dinkes Tarakan

Zakaria RT • Kamis, 23 April 2026 | 14:37 WIB
KONFERENSI : Dinkes Tarakan memberikan pernyataannya di hadapan awak media. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
KONFERENSI : Dinkes Tarakan memberikan pernyataannya di hadapan awak media. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Adanya isu flu burung yang beredar liar di media sosial menyebabkan kepanikan luas di tengah masyarakat. Kondisi ini membentuk persepsi liar yang dengan cepat memengaruhi pola konsumsi warga dan menekan aktivitas ekonomi sektor informal. Kekhawatiran yang terbangun membuat masyarakat menahan diri membeli ayam, sehingga pasar tradisional yang biasanya ramai perlahan kehilangan denyut transaksi dan para pedagang kecil mulai merasakan langsung dampak dari informasi yang simpang siur tersebut.

Meluruskan isu yang beredar, Kepala Dinas Kesehatan Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti menegaskan, data yang terlanjur viral tersebut sejatinya merupakan dokumen internal untuk kewaspadaan dini di tingkat puskesmas, bukan informasi publik apalagi dasar larangan konsumsi ayam seperti yang berkembang di masyarakat.

“Data itu adalah bahan evaluasi internal kami untuk puskesmas, bukan untuk konsumsi umum. Kami khawatirkan munculnya salah persepsi seperti sekarang ini. Dinkes tidak pernah mengeluarkan larangan belanja ayam. Kesimpangsiuran inilah yang bikin warga resah dan berdampak langsung ke pedagang,” ujarnya, Kamis (23/4).

Ia menjelaskan, mekanisme pelaporan tersebut merupakan bagian dari sistem deteksi dini yang rutin dilakukan untuk memantau potensi penyakit, namun informasi itu menjadi bias ketika tersebar tanpa penjelasan utuh. Akibatnya, masyarakat menangkap pesan yang keliru dan memunculkan ketakutan berlebih.

Lebih jauh, Devi memastikan bahwa hingga saat ini tidak ditemukan satu pun kasus penularan flu burung H5N1 pada manusia di Tarakan. Bahkan secara nasional, penularan dari unggas ke manusia masih tergolong sangat jarang terjadi dan tidak menjadi ancaman langsung jika masyarakat memahami cara penanganan pangan yang benar.

“Warga tidak perlu takut makan ayam. Selama bahan pangan diolah dengan benar dan dimasak sampai benar-benar matang, virusnya pasti mati. Tidak ada risiko penularan lewat makanan matang. Ini yang harus dipahami supaya masyarakat tidak termakan isu yang tidak jelas sumbernya,” jelasnya.

Lanjutnya, di tengah polemik tersebut Dinkes Tarakan juga tengah melakukan investigasi internal untuk menelusuri sumber kebocoran data. Dugaan sementara mengarah pada oknum di lingkungan puskesmas, meski hingga kini belum dibawa ke ranah hukum. Namun, peringatan keras telah disampaikan agar kejadian serupa tidak terulang.

“Jangan sembarangan menyebar informasi yang konteksnya belum jelas. Data kesehatan itu sensitif dan harus dipahami secara utuh. Jika keresahan ini meluas dan berdampak fatal, tentu ada konsekuensi hukum yang menanti bagi pihak yang menyebarkannya,” urainya.

"Kami akan memperkuat edukasi langsung kepada masyarakat melalui puskesmas, terutama terkait cara memilih daging ayam yang sehat, proses pengolahan yang aman, serta pentingnya menjaga kebersihan sebagai langkah utama pencegahan penyakit," tuturnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#flu burung #h5n1 #tarakan #dinkes #kesehatan