Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Belum Dievakuasi, Keberadaan Buaya di Tarakan Ini Dikhawatirkan Menyerang Warga

Zakaria RT • Rabu, 25 Maret 2026 | 19:52 WIB

 

Tangkapan layar video penampakan buaya di pemukiman warga.
Tangkapan layar video penampakan buaya di pemukiman warga.

TARAKAN - Setelah satu ekor buaya gagal ditangkap warga, kini beredar video 30 detik di media sosial yang memperlihatkan seekor buaya yang jauh lebih besar berenang di lokasi yang sama yakni di RT 15 Kelurahan Rejo Kecamatan Tarakan Tengah pada Selasa (24/3) malam. Sehingga hal tersebut memunculkan dugaan masyarakat jika buaya yang berkeliaran di kawasan tersebut berjumlah lebih dari satu ekor.

Ketua RT 15 Karang Rejo, Rustam mengatakan, buaya setidaknya sering muncul sejak 2 bulan terakhir di area pemukiman masyarakat. Sehingga ia mengkhawatirkan jika dibiarkan buaya tersebut akan menyerang warga. Mengingat kata dia, lokasi tersebut banyak anak-anak yang terkadang melakukan aktivitas berenang saat air pasang.

“Ini sudah terlihat kira-kira dari Januari lah, cuma waktu itu dia sering muncul hilang muncul hilang saja. Nah baru kali satu bulan ini dia berani sudah berjemur di atas batang kayu walaupun banyak orang lalu-lalang. Awal-awal itu dia muncul sebentar kalau dia lihat orang masuk lagi ke dalam air, sekarang dia sudah terang-terangan," ujarnya, Rabu (25/3).

"Sekarang dia kalau diusir malah dibukanya mulutnya, kayak mau mengancam menggigit kalau diusir. Sudah saya laporkan bulan lalu ke kelurahan dan Pemadam kebakaran. Takutnya di sini kan banyak anak-anak, terus kebanyakan masyarakat aktivitasnya di laut. Kadang turun cuci perahu atau pukat takutnya nanti diterkam sama buaya," sambungnya.

Ia meyakini jumlah buaya lebih dari satu. Mengingat kata dia, beberapa kali ia melihat buaya dengan ukuran yang berbeda-beda. Sehingga ia menduga jumlah buaya lebih dari tiga ekor. Dikatakannya, awal kemunculan buaya sempat membuat warga berinisiatif melakukan penangkapan secara mandiri. Bahkan terbaru upaya tersebut sudah dilakukan meski gagal. Menurutnya melakukan evakuasi secara bergotong royong berpotensi menimbulkan resiko besar jika buaya berjumlah lebih dari satu. Hal itu ditambah dengan tidak adanya keterampilan khusus dari masyarakat untuk menangkap hewan warisan zaman purba tersebut.

"Memang sempat mau ditangkap kayak di Nunukan itu cuma kalau dipikir resikonya besar, kemarin ada beberapa anak muda yang berani gagal juga. Karena tidak ada peralatan memadai. Kami khawatir ukuran buaya semakin besar dan bisa makan orang. Jangan sampai tunggu ada korban baru ditindaklanjuti," pesannya

Sebagai ketua RT, ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan warganya. Sehingga ia berharap sang predator tersebut dapat dipindahkan ke tempat yang lebih layak yakni habitat asalnya atau ke penangkaran buaya. Lanjutnya, masyarakat bisa saja menombak atau menembak buaya tersebut, namun dikatakannya masyarakat tidak ingin melukai atau membunuh buaya tersebut lantaran termasuk hewan dilindungi.

“Kami tidak mau membunuh karena itu hewan dilindungi. Tapi kalau dibiarkan juga berbahaya. Namanya buaya, kita tidak tahu kapan bisa menyerang. Banyak cara kalau mau dibunuh, cuma kami maunya dipindahkan saja supaya tidak meresahkan," jelasnya.

Sementara itu, Odang (33) salah satu petugas yang mengurus pengairan di salah satu perusahaan di sekitar lokasi juga khawatir dengan kehadiran buaya. Dikatakannya, kehadiran buaya dapat mengancam keselamatan pekerja yang bertanggungjawab pada penyaluran dan instalasi air.

Dibeberkannya, instalasi air sebagian besar berada di bawah jembatan yang mengharuskan petugas turun ke bawah jembatan untuk memperbaiki pipa dan kran. Menurutnya, jika naas petugas bisa diterkam saat menjalankan tugasnya.

"Kami ngeri-ngeris sedap juga, kerja kami mengontrol pipa dan mesin. Kalau ada gangguan instalasi kami turun ke kolong jembatan ke dekat air memperbaiki kerusakan. Selama ini kami sering ketemu ular air dan biawak, tapi hewan itu tidak apa-apa karena kami pakai sepatu safety. Tapi kalau buaya kami khawatir juga pas kerja diterkam," katanya.

"Apalagi kalau ada gangguan malam, mau tidak mau kita turun cek instalasinya. Buaya ini kan sensitif dengan cahaya. Takutnya pas kami turun pakai senter itu malah mengundang mereka mendekat. Harapan kami, kami minta tolong lah supaya buaya ini dievakuasi. Kami ini kerja cari nafkah buat keluarga tentu kami takut juga resikonya," pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #buaya