Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

5 Hari Terakhir Ramadan, MUI Tarakan Sampaikan Keistimewaan Lailatul Qadar

Zakaria RT • Minggu, 15 Maret 2026 | 19:43 WIB

AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN ISTIMEWA: Suasana masjid pada akhir Ramadan di Tarakan.
AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN ISTIMEWA: Suasana masjid pada akhir Ramadan di Tarakan.

TARAKAN - Di hari ke-5 terakhir Ramadhn, masyarakat mulai mengalihkan perhatian pada persiapan Idulfitri. Hal tersebut dapat dilihat dari berkurangnya semangat beribadah sebagian umat Islam. Alhasil, semakin mendekati penghujung Ramadan, masjid-masjid semakin sepi. Padahal dalam hari-hari terakhir Ramadan, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah lantaran disebutkan malam Lailatul Qadar hadir bagi barang siapa yang secara khusyuk mengerjakan amal-amal ibadah.

Ketua MUI Tarakan KH Abdul Samad menerangkan, menurut hadis Rasulullah SAW, keistimewaan Lailatul Qadar memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur'an pada surah Al-Qadar, yang menjelaskan bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan. Selain itu dikatakannya, malam yang disebut sebagai malam seribu bulan tersebut merupakan malam pengampunan bagi siapa pun yang mengejarnya.

"Malam Lailatul Qadar memang terjadi setiap Ramadan, tapi tidak semua orang bisa merasakan atau mendapatkannya. Kalau kita belajar dari kisah Rasulullah SAW. Baginda nabi kita (Muhammad) senantiasa beriktikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan dan beliau bersabda, 'Raihlah malam Lailatul Qadar pada hari-hari terakhir. Sabda itu dijelaskan di dalam hadits HR Tirmidzi nomor 712," ujarnya, Minggu (15/3).

Diungkapkannya, meskipun tidak ada informasi yang menjelaskan hari dan angka pasti hadirnya Lailatul Qadar, namun dikatakannya sebagian ulama yang meyakini bahwa malam ini jatuh pada malam ke-27 Ramadan. Namun, tetap dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada seluruh malam di sepuluh hari terakhir agar tidak melewatkan keberkahan malam tersebut.

"Karena tidak ada tanggal pasti kapan malam Lailatul Qadar terjadi, terdapat beberapa tanda yang disebutkan dalam hadis yakni, di malam itu udara dan suasana hari terasa sejuk tapi juga tidak begitu dingin, tetapi penuh dengan ketenangan. Hal ini dijelaskan dalam hadis HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi.

"Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan," terangnya.

"Di hadis lain seperti HR Muslim nomor 762 menjelaskan, tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru. Dan masih banyak lagi riwayat yang menjelaskan tanda-tanda Lailatul Qadar," lanjutnya.

Meski demikian, ia mengakui jika tidak semua umat islam merasakan kebatinan tersebut, namun kata dia setidaknya terdapat 5 amalan pasti yang dianjurkan pada hari-hari akhir Ramadhan. Yakni iktikaf, tahajud, dzikir, tajwid, dan doa."Sesuai dengan sunnah Rosulullah, yang paling baik adalah itikab. Yaitu berdiam di masjid dengan melakukan ibadah-ibadah seperti salat tahajud, dzikir, membaca Al-Quran dan memperbanyak doa. Itu adalah amalan terbaik pada akhir Ramadan menurut anjuran Rasulullah," jelasnya.

Ia menuturkan, dalam iktikaf seseorang dimaksudkan untuk dapat melakukan intropeksi diri terhadap sikap dan perilakunya sebagai manusia dalam menjalankan perintah agama.

"Tentu dalam proses itu, diisi semacam intropeksi diri, merenungi diri dalam perjalanan hidup dalam setahun ini apakah sudah ada perkembangan dari tahun kemarin atau malah mengalami kemunduran dari segi ibadah dan menjalankan syariat lainnya," terangnya.

Meski demikian, menurutnya di zaman saat ini iktikaf sangat sulit dilakukan umat Islam pada umumnya. Mengingat iktikaf adalah kegiatan yang menghabiskan waktu sehari penuh di dalam masjid untuk melaksanakan rangkaian ibadah. Tentunya, hal tersebut tidak dapat dilakukan seseorang yang bekerja.

"Sementara untuk sekarang sangat tidak mungkin dilakukan yang bekerja. Sehingga saat ini tepatnya disebut mabit. Mabit itu artinya singgah/berteduh di masjid,"tuturnya.

Dijelaskannya, sehingga alternatif paling tepat ialah melaksanakan mabit yang dapat dijalankan menyesuaikan kesibukan. Menurutnya, hal itu dapat dilakukan daripada tidak sama sekali. Lanjutnya, Mabit dianjurkan lebih memperbanyak ibadah daripada tidur di dalam masjid. Namun demikian, ia mengakui jika semakin mendekati ujung ramadan masjid terlihat semakin sepi.

"Mabit itu ketika kita pulang bekerja, misalnya ASN katakanlah bekerja pukul 08.00 wita sampai jam 15.000. Setelah pulang dia langsung ke masjid, buka puasa di masjid, nanti sampai maghrib, tarawih dia berjamaah dan tidak pulang setelah tarawih sampai sahur di masjid dan pagi pulang kembali bekerja. Besoknya begitu lagi hingga berakhirnya Ramadan," urainya"

"Mabit dianjurkan lebih memperbanyak ibadah daripada tidur di dalam masjid. Kalau kebanyakan tidur, namanya bukan mabit tapi pindah tempat tidur saja. Nah oleh karena itu dianjurkan perbanyak ibadah. Kalau lelah baru tidur sebentar setelah itu lanjut melakukan ibadah lagi,"pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #puasa #iktikaf #ramadan #lailatul qadar #mui