TARAKAN – Kunjungan kerja Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, ke Kota Tarakan menjadi perhatian tersendiri. Bukan hanya karena momentum peringatan Hari Lahan Basah Sedunia, tetapi juga karena kawasan mangrove Tarakan kini kian dilirik sebagai contoh penting benteng ekosistem pesisir nasional.
Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia tersebut dipusatkan di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Tarakan, Jumat (6/2). Menteri Kehutanan RI beserta rombongan disambut langsung oleh Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Zainal Arifin Paliwang, bersama jajaran pemerintah daerah.
Dalam sambutannya, Gubernur Zainal menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada Menteri Kehutanan RI beserta rombongan. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas padatnya agenda serta berbagai permintaan selama kunjungan kerja di Kaltara.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Kaltara, kami mengucapkan selamat datang kepada Bapak Menteri Kehutanan beserta seluruh rombongan di KKMB Tarakan,” ucapnya.
Zainal menegaskan, kehadiran Menteri Kehutanan RI pada momentum Hari Lahan Basah Sedunia menjadi suntikan semangat baru bagi Kaltara untuk terus memperkuat komitmen menjaga kelestarian lingkungan.
“Kehadiran Bapak Menteri hari ini memberikan semangat baru bagi kami semua untuk terus menjaga ekosistem sebagai benteng kehidupan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Kaltara merupakan wilayah yang dianugerahi kekayaan alam luar biasa, khususnya kawasan pesisir dengan ekosistem mangrove yang memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan hidup.
“Kaltara diberkahi kekayaan alam yang luar biasa. Kawasan pesisir dengan ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan serta menyediakan habitat bagi flora dan fauna, termasuk spesies endemik dan langka yang harus dilestarikan secara berkelanjutan,” jelasnya.
Selain fungsi ekologis, Zainal menekankan peran mangrove dalam mitigasi perubahan iklim. Menurutnya, pemulihan dan pelestarian mangrove menjadi prioritas daerah dalam mendukung target pengurangan emisi karbon.
“Pemulihan ekosistem mangrove merupakan langkah strategis dalam mendukung target pengurangan emisi karbon serta menghadapi dampak perubahan iklim,” tambahnya.
Gubernur Zainal juga menyoroti keberadaan Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Tarakan yang dinilai memiliki keunikan tersendiri. Kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hutan mangrove, tetapi juga sebagai benteng alam dan penopang perekonomian Kota Tarakan.
“KKMB ini bukan hanya sekadar hutan mangrove, tetapi juga benteng alam dan penopang perekonomian kota. Luasnya sekitar 22 hektare dan menjadi kawasan penyangga yang sangat penting,” ungkapnya.
Diketahui, KKMB Tarakan memiliki sekitar 15 jenis mangrove dan menjadi habitat satwa endemik bekantan (Nasalis larvatus). Saat ini, populasi bekantan di kawasan tersebut tercatat sebanyak 42 individu yang terbagi dalam tiga kelompok, yakni kelompok Michael, Rafael, dan Juli.
Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia di KKMB Tarakan diharapkan semakin memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya ekosistem mangrove sebagai aset ekologis sekaligus ekonomi yang vital bagi Kaltara. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT