TARAKAN – Harga rumput laut kering di Kota Tarakan kembali mengalami penurunan dan semakin menekan pembudidaya. Setelah sempat berada di angka Rp 11.000 per kilogram, kini harga jual di tingkat petani turun menjadi Rp 10.000 per kilogram. Kondisi tersebut memperparah situasi pembudidaya rumput laut yang selama ini sudah dihadapkan pada fluktuasi harga serta berbagai kendala produksi.
Salah seorang pembudidaya, Abdul Muis, mengungkapkan bahwa harga rumput laut sangat tidak stabil dan kerap berubah dalam waktu singkat. Ia menuturkan, sekitar empat tahun lalu harga rumput laut sempat berada di kisaran Rp 28.000 per kilogram, bahkan pernah menembus Rp 40.000 per kilogram. Namun dalam beberapa tahun terakhir, harga terus mengalami penurunan hingga pada 2024 sempat menyentuh Rp 7.000 per kilogram.
“Sebelumnya Rp 11.000 per kilogram, turun jadi Rp 10.500, sekarang Rp 10.000. Tidak tentu,” ujarnya, Selasa (20/1).
Menurut Abdul Muis, satu siklus panen rumput laut membutuhkan waktu sekitar 40 hingga 45 hari. Dalam kondisi tanaman yang baik, hasil panen bisa mencapai satu ton atau lebih. Namun, serangan hama tritip kerap menyebabkan penurunan hasil secara drastis. “Kadang hanya dapat sekitar 300 kilogram, bahkan ada yang gagal panen karena rumput laut rontok dari tali,” jelasnya.
Turunnya harga jual berdampak langsung pada kemampuan pembudidaya untuk menutup biaya produksi. Abdul Muis menyebutkan, biaya operasional yang harus dikeluarkan cukup besar, termasuk untuk membayar upah pekerja pabettang atau pembentang.
“Dengan harga yang semakin rendah, kami harus memutar otak untuk menutup biaya produksi. Biaya operasional cukup besar, sementara hasil panen sering tidak maksimal,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT