TARAKAN – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,5 terjadi pada Rabu malam, 31 Desember 2025, sekitar pukul 20.55 WIB. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di koordinat 4,17 Lintang Utara dan 120,04 Bujur Timur, atau sekitar 286 kilometer di timur laut Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) dengan kedalaman 26 kilometer.
Kepala BMKG Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, memastikan gempa tersebut tidak berdampak dan tidak dirasakan oleh masyarakat Tarakan karena jaraknya yang sangat jauh dari wilayah kota.
“Memang di keterangan tertulis arah timur atau timur laut Tarakan, sehingga mungkin membuat sebagian masyarakat khawatir. Tapi perlu kami sampaikan, jaraknya hampir 300 kilometer dari Pulau Tarakan, jadi sama sekali tidak berpengaruh,” ujar Sulam, Kamis (1/1).
Ia menjelaskan, penyebutan arah dalam rilis gempa merupakan sistem penunjuk dari titik terdekat yang mudah dikenali masyarakat. Namun secara geografis, episenter gempa berada jauh di laut dan tidak menimbulkan getaran di Tarakan.
“Koordinatnya sudah sangat jauh dari titik Tarakan. Jadi ini bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan,” tegasnya.
Sulam juga membandingkan dengan kejadian gempa sebelumnya berkekuatan magnitudo 4,8 yang sempat dirasakan warga Tarakan. Gempa tersebut memiliki pusat hanya sekitar 3 kilometer dari garis pantai, sehingga getarannya terasa cukup kuat.
“Kalau yang 4,8 itu pusatnya sangat dekat, hanya sekitar 3 kilometer dari pantai, makanya sangat dirasakan. Sementara yang ini hampir 300 kilometer, jadi jelas sangat berbeda,” jelasnya.
Hingga saat ini, BMKG Tarakan juga tidak menerima laporan kerusakan akibat gempa tersebut. Selain itu, belum terpantau adanya gempa susulan.
“Sampai sekarang belum ada gempa susulan dan tidak ada laporan kerusakan, karena memang tidak dirasakan oleh warga,” katanya.
Meski demikian, Sulam mengingatkan masyarakat Tarakan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan pemahaman mitigasi bencana, mengingat wilayah Tarakan berada di sekitar jalur patahan.
“Kita hidup berdampingan dengan patahan Tarakan. Gempa tidak bisa diprediksi kapan terjadinya, sehingga yang paling penting adalah edukasi dan mitigasi—apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT