Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Hingga Pertengahan Desember 2025, Ada 56 Peristiwa Kebakaran di Tarakan

Zakaria RT • Kamis, 18 Desember 2025 | 18:30 WIB
KEBAKARAN: Ilustrasi peristiwa kebakaran yang terjadi di Kota Tarakan.
KEBAKARAN: Ilustrasi peristiwa kebakaran yang terjadi di Kota Tarakan.

TARAKAN — Rawannya kebakaran yang terjadi di Kota Tarakan lantaran banyaknya pemukiman padat di wilayah pesisir, membuat Pemadam Kebakaran (PMK) Tarakan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk meminimalisir kejadian kebakaran. Hal tersebut dilakukan dalam berbagai agenda seperti simulasi pemadaman kebakaran atau sosialisasi dari RT ke RT.

Kepala Seksi PMK pada Dinas Satpol PP dan PMK, Irwan menerangkan, sejauh ini peristiwa kebakaran menjadi salah satu momok menakutkan bagi masyarakat. Dikatakannya, hal tersebut lantaran banyaknya pemukiman padat serta masih minimnya hidran di tempat umum. Lanjutnya, belum lagi saat ini PMK pun juga mengalami persoalan karena usangnya armada yang dimiliki. Sehingga kondisi ini menimbulkan kendala tersendiri pada upaya pemadaman saat terjadi kebakaran.

PMK Tarakan mencatat 56 kejadian kebakaran sepanjang tahun 2025. Dari seluruh kejadian tersebut, kebakaran terbesar terjadi di kawasan Asrama Polisi (Aspol) Jalan Purnawirawan, Tarakan Barat, yang menghanguskan empat rumah dinas anggota Polri dan satu rumah warga.

"Hingga pertengahan Desember, Tercatat 56 kejadian kebakaran di Tarakan. Kejadian di Asrama Polisi beberapa waktu lalu merupakan kebakaran terbesar yang kami tangani sepanjang tahun 2025, baik dari jumlah bangunan terdampak maupun potensi kerugiannya,” ujarnya, Kamis (18/12).

"Berdasarkan rekapitulasi data capaian kinerja bulanan PMK Tarakan tahun 2025, kebakaran paling banyak terjadi pada objek rumah dan bangunan, yakni sebanyak 21 kejadian. Selain itu, tercatat 9 kejadian kebakaran lahan atau hutan, serta 26 kejadian kebakaran lainnya, seperti kebakaran pada kendaraan," sambungnya.

Dikatakannya, kebakaran tertinggi terjadi pada Mei dengan 9 kejadian, disusul Juli dan Oktober yang masing-masing mencatat 7 kejadian. Sementara itu, jumlah kebakaran terendah terjadi pada Januari dan Desember, masing-masing 2 kejadian. Dibeberkannya sebagian besar kejadian disebabkan arus pendek listrik dan kompor gas.

"Sampai saat ini korsleting atau arus pendek listrik tetap paling sering sama seperti tahun sebelum-sebelumnya. Kami mengimbau agar setiap rumah kalau bisa memiliki alat pemadam ringan (Apar) di rumah. Atau kalau bisa di setiap beberapa rumah minimal ada apar. Ini diharapkan bisa mencegah api membesar," jelasnya.

Menurutnya, pencegahan kebakaran sebenarnya tidak cukup hanya dilakukan dengan sosialisasi saja, melainkan adanya upaya dalam meremajakan armada maupun menghadirkan fasilitas pemadaman yang berada di sekitar pemukiman.

"Kami juga mengimbau agar masyarakat lebih waspada terhadap potensi kebakaran, terutama saat meninggalkan rumah. Pastikan kompor, instalasi listrik, dan peralatan elektronik dalam kondisi aman. Pencegahan menjadi kunci untuk menekan angka kebakaran di Tarakan,” katanya.

"Tapi bagaimana pun, pengetahuan pencegahan hanya mencegah, jika terjadi kami harus berupaya secepat mungkin memadamkannya sebelum api semakin luas. Tentu hal ini memerlukan dukungan fasilitas yang memadai dan saat ini PMK Tarakan masih terkendala di sini," pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #pmk #kebakaran