Program pelatihan konselor sebaya hadir sebagai jawaban atas tantangan remaja di wilayah perbatasan, menggabungkan pendekatan ilmiah dan nilai budaya lokal.
Di daerah perbatasan dan pesisir, anak-anak remaja menghadapi tantangan yang tidak kalah besar dibandingkan dengan teman sebaya mereka di perkotaan.
Keterbatasan akses informasi, minimnya fasilitas pendidikan, serta tantangan dalam menyeimbangkan nilai budaya lokal dengan arus globalisasi menjadikan mereka kelompok yang rentan terhadap berbagai masalah psikososial.
Mulai dari tekanan akademik, pergaulan bebas, hingga masalah keluarga dan sosial ekonomi, semuanya dapat berdampak pada tumbuh kembang mereka, baik secara mental maupun karakter.
Menjawab tantangan tersebut, tim dosen dan mahasiswa dari Universitas Borneo Tarakan menyelenggarakan program Pelatihan Konselor Sebaya Berbasis Kearifan Lokal di SMP Negeri 6 Tarakan.
Kegiatan ini berlangsung pada 8–22 Agustus 2025 dengan dukungan penuh dari pihak sekolah.
Kepala sekolah, Ibu Musdinah, S.Pd., M.Pd., membuka ruang seluas-luasnya bagi tim pengabdian untuk melaksanakan program, sementara guru BK Ibu Nurhikmawaty, S.Pd., ikut terlibat sebagai fasilitator.
Program ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai oleh DPPM Ditjen Riset dan Pengembangan, Kemdiktisaintek.
Tim pelaksana dipimpin oleh A. Ahmad Ridha, S.Psi., M.Psi., Psikolog, bersama anggota dosen Kusumawati, M.Pd., Ari Rahmi Hasfaraini, S.Pd., M.Psi., serta mahasiswa Muhammad Daffa Hanifian dan Faisal.
Mengapa Konselor Sebaya?
Konselor sebaya adalah siswa yang diberdayakan untuk menjadi pendengar, teman diskusi, sekaligus sumber dukungan bagi teman-temannya di sekolah.
Konsep ini efektif diterapkan di kalangan remaja karena mereka cenderung lebih terbuka berbagi masalah dengan teman sebaya ketimbang orang dewasa.
Namun, agar konseling sebaya berjalan efektif, siswa perlu dibekali keterampilan komunikasi, empati, pengetahuan tentang perkembangan remaja, serta kemampuan memahami nilai budaya yang ada di lingkungan mereka.
Inilah yang menjadi fokus pelatihan kali ini, dengan penekanan pada kearifan lokal sebagai dasar penguatan karakter.
Rangkaian Pelatihan
Sebelum pelatihan dimulai, tim melakukan sosialisasi kepada pihak sekolah dan siswa mengenai tujuan serta manfaat program.
Setelah itu, peserta yang terpilih mengikuti serangkaian sesi pelatihan yang difasilitasi oleh tim dosen, mahasiswa, dan guru BK.
Materi yang diberikan mencakup sepuluh topik penting, yaitu: Membangun Kelompok Dukungan Sebaya di Sekolah; Memahami Tahapan Perkembangan Remaja; Mengenali Diri dan Membentuk Identitas Positif; Mengenal Hak Anak dan Tanggung Jawab Sosial; Membangun Keterampilan Komunikasi dan Empati; Menumbuhkan Kreativitas dan Ekspresi Positif Anak; Menghadapi Tekanan dan Menyelesaikan Masalah Secara Adaptif; Memahami Gender dan Nilai Budaya dalam Interaksi Sosial; Menjaga Kesehatan Mental dan Fisik Secara Mandiri; Menyiapkan Diri untuk Masa Depan dan Cita-Cita.
Setiap sesi tidak hanya berisi ceramah, tetapi juga diskusi kelompok, permainan edukatif, dan praktik langsung.
Misalnya, pada materi komunikasi empatik, siswa diajak bermain peran (role play) menjadi pendengar aktif. Sementara pada materi menghadapi tekanan, mereka berlatih teknik relaksasi sederhana yang bisa dipraktikkan di rumah maupun sekolah.
Sentuhan Kearifan Lokal
Kegiatan ini tidak melupakan akar budaya setempat. Nilai-nilai lokal seperti gotong royong, rasa hormat pada orang tua, serta kearifan dalam menjaga alam pesisir dijadikan bahan refleksi bagi siswa.
Dengan begitu, siswa tidak hanya memahami konsep konseling modern, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan budaya sehari-hari yang mereka jalani.
Pendekatan ini membuat pelatihan terasa lebih membumi dan relevan. Seorang peserta bahkan menyampaikan, “Ternyata membantu teman bukan hanya soal nasihat, tapi juga bagaimana kita saling menjaga, seperti kebiasaan di kampung kami kalau ada orang susah.”
Hasil dan Dampak
Setelah dua minggu pelatihan, terlihat perubahan sikap pada siswa peserta. Mereka lebih berani berbicara di depan umum, lebih mampu mendengarkan teman dengan empati, serta menunjukkan rasa percaya diri yang lebih kuat.
Guru BK menilai adanya penurunan konflik kecil antar siswa karena beberapa masalah berhasil diselesaikan melalui pendekatan konseling sebaya.
Lebih jauh, program ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa ketahanan mental bukan hanya urusan individu, tetapi juga tanggung jawab bersama. Karakter siswa dibentuk tidak hanya lewat materi akademik, tetapi juga lewat interaksi sosial yang sehat.
Harapan ke Depan
Baca Juga: PAUD di Tarakan Dominasi Lembaga Swata, Begini Penjelasan Disdik Tarakan
Pelatihan konselor sebaya berbasis kearifan lokal ini diharapkan dapat berlanjut menjadi program rutin sekolah.
Dengan dukungan guru BK, konselor sebaya yang sudah dilatih bisa menjadi pionir dalam menjaga kesehatan mental dan karakter positif di lingkungan SMP Negeri 6 Tarakan.
Program ini juga membuka peluang kolaborasi lebih luas antara universitas, sekolah, dan masyarakat.
Di masa mendatang, pendekatan serupa bisa diterapkan di sekolah-sekolah lain di daerah perbatasan dan pesisir, sehingga semakin banyak siswa yang mendapatkan manfaat.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini membuktikan bahwa pendidikan karakter dan kesehatan mental remaja tidak harus selalu dengan pendekatan rumit atau mahal.
Dengan memberdayakan potensi siswa sendiri sebagai konselor sebaya, ditambah sentuhan kearifan lokal, hasilnya bisa jauh lebih bermakna dan berkelanjutan.
Melalui kerja sama antara sekolah, universitas, dan pemerintah, langkah kecil ini bisa menjadi pondasi besar bagi masa depan generasi muda di perbatasan dan pesisir.
Mereka bukan hanya menjadi remaja tangguh, tetapi juga calon pemimpin yang berakar pada nilai budaya dan siap menghadapi tantangan global.
Editor : Azwar Halim