TARAKAN – Setelah mengirimkan perwakilan sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus mendatang, kini 8 siswi SMK Negeri 1 Tarakan kembali terpilih dalam mewakili Tarakan pada Jogjakarta Fashion Week (JFW) 2025.
Diketahui, JFW merupakan salah satu kontes busana bergengsi di Indonesia. Sehingga event tersebut banyak melahirkan desainer-desainer terkenal.
Saat dikonfirmasi, Guru Pembimbing Kompetensi Desain dan Produksi Busana SMKN 1 Tarakan, Santi Asmara Dhani menerangkan, dirinya tidak menyangka sang murid mendapatkan kesempatan memamerkan rancangan busana miliknya pada peragaan busana terbesar di Indonesia tersebut.
Menurutnya, tidak mudah untuk mendapatkan kesempatan dalam event tersebut. Mengingat kata dia, proses seleksi pendaftaran terbilang ketat. Lanjutnya, pelaksanaan JFW akan berlangsung pada tanggal 7-10 Agustus 2025.
"Persiapan lumayan lama, kami telah mempersiapkan karya-karya murid kami. Sebelumnya rancangan busana ini sudah ditampilkan lebih dulu pada peragaan busana di Tarakan. Busana ini menggunakan bahan daur ulang seperti jins bekas, jaket bekas, rok, dan tas bekas yang diolah kembali menjadi busana baru penuh nilai estetika dan pesan lingkungan," ujarnya, Selasa (22/7).
“Mereka mendesain dari nol, mulai dari riset, sketsa, pola, sampai menjahit. Semua dilakukan sendiri oleh anak-anak. Dua koleksi utama yang akan ditampilkan adalah, Noir Rebellion, yang menggambarkan semangat kebebasan dan pemberontakan kreatif anak muda. Koleksi ini menunjukkan bahwa busana daur ulang bisa tampil mewah dan modern. Petsch Crematik, yang mengangkat kain dari bahan tenda bekas, dengan sentuhan motif lokal Dayak dari Tarakan dan NDB. Proyek ini menjadi representasi nyata bahwa warisan budaya bisa berpadu dengan mode kekinian," sambungnya.
Dikatakannya, partisipasi siswa ini merupakan hasil implementasi dari Kurikulum Merdeka Belajar, khususnya pembelajaran berbasis proyek.
Bahkan dikatakannya, keikutsertaan para siswa menggunakan anggaran secara kolektif alias biaya mandiri tanpa bantuan pemerintah.
"Salah satu hal paling inspiratif adalah bagaimana seluruh proses ini didanai secara mandiri oleh para siswa. Sejak kelas 10, mereka menabung secara kolektif, menyisihkan uang saku sebesar Rp 50 ribu setiap minggu. Rata-rata tabungan mereka lebih dari Rp 1 juta. Biaya produksi hingga tiket pesawat pun secara swadaya. Sekolah hanya memberikan izin dan dukungan,” jelasnya. (zac)
Editor : Azwar Halim