Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Dzibran, Anak Hafiz Quran Asal Tarakan yang Menembus Fakultas Kedokteran Lewat Doa dan Jerih Payah Ibu

Radar Tarakan • Rabu, 23 Juli 2025 | 09:26 WIB

 

Dzibran Athaullah Mahardika (kiri) bersama sang Ibu Hj. Indriasari Febriliani (Kanan)
Dzibran Athaullah Mahardika (kiri) bersama sang Ibu Hj. Indriasari Febriliani (Kanan)

Tarakan - Dzibran Athaullah Mahardika, pemuda kelahiran Tarakan, 6 Agustus 2006, mungkin terlihat seperti anak biasa.Tapi siapa sangka, di balik wajah tenangnya, tersimpan kisah perjuangan luar biasa.

hafal 30 Juz di usia 16 tahun, yatim sejak SMP, atlet taekwondo berprestasi nasional, dan kini lolos ke Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim, Semarang.

Semua ini dicapai Dzibran, bukan karena jalan yang mudah, melainkan karena kekuatan doa, perjuangan, dan restu sang ibu.

Awal Mula Hafalan Al-Qur’an
Dzibran mulai menghafal Al-Qur’an pada usia 13 tahun. Dulu, ia bahkan tak mengenal huruf-huruf dalam mushaf.

Tapi dari kegiatan mengaji di sebuah yayasan kecil di Tarakan, seorang ustazah melihat potensi hafalannya.

"Awalnya cuma hafal Juz 30, buat syarat masuk pesantren. Tapi lama-lama saya cinta,” kenangnya.

Ia pun menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Daarul Qur’an, Tangerang, sejak SMP hingga SMA. Di sanalah semangat menghafalnya tumbuh subur.

Baca Juga: PT PRI Bekali Belasan IRT Mengikuti Pelatihan Membuat Produk UMKM

Foto Almarhum Sang Ayah, Yuwono Mahardika (Kiri) Dzibran Kecil (Kanan)
Foto Almarhum Sang Ayah, Yuwono Mahardika (Kiri) Dzibran Kecil (Kanan)

Kabar Duka Saat Baru Masuk Pesantren
Baru tiga bulan di pesantren, Dzibran dipanggil pulang oleh keluarga, katanya untuk acara keluarga. Ia senang bukan main.

Tapi sesampainya di bandara, seorang teman berkata lirih, “Dzibran, sabar ya.” Ia belum mengerti, hingga akhirnya tahu: ayahnya, Yuwono Mahardika, telah wafat dalam tidurnya.

Di dalam pesawat, air mata tak terbendung. Ustaz Afif menemaninya saat itu. “Saya nggak percaya, saya kira saya dikerjain,” ujarnya lirih. Di depan jenazah sang ayah, Dzibran menangis sejadi-jadinya.

 

 

Photo
Photo

Mimpi Jadi Ustaz Berubah Menjadi Dokter

Sejak SMA kelas 10, Dzibran bercita-cita kuliah ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, mengambil jurusan syariah. Tapi di kelas 12, ia mulai tertarik pada dunia medis.

Baca Juga: Polres Tarakan Lanjutkan Pemeriksaan Urine Personel, Komitmen Cegah Narkoba di Internal, Pemeriksaan Dilakukan Secara Acak

"Saya bilang ke mama, ‘Kalau saya lulus, mama ada biaya untuk kedokteran nggak?’” Kisah Dzibran.

Jawaban sang ibu, Hj. Indriasari Febriliani, sederhana namun kuat, “Coba saja dulu, nak. Siapa tahu ada rezeki.” Jawaban itu menjadi penyemangat Dzibran yang sempat ragu karena ia tahu, menjadi dokter itu tidak murah.

Lolos Kedokteran dan Doa yang Kuat
Tanggal 30 Juni 2025, Dzibran sedang mengantar adiknya ke bandara. Hari itu juga pengumuman kelulusan masuk universitas.

Ia tak langsung membuka hasilnya. Ia memilih menunggu hingga tiba di rumah. Bersama ibunya, mereka membuka pengumuman: LULUS.

Baca Juga: Alimuddin Bertekad Benahi PODSI Kaltara, Fokus Pembinaan dan Targetkan Prestasi di Porprov dan Pra PON

Tangis bahagia pecah. “Alhamdulillah… akhirnya masuk kedokteran!” katanya.

Namun kegembiraan itu hanya sementara. Dzibran hanya punya waktu 7 hari untuk melunasi biaya masuk sebesar Rp137 juta. Ibu dan anak itu pasrah. Mereka salat dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

Diskon Tak Terduga dan Rumah yang Laku Terjual

Keajaiban datang. Biaya masuk yang awalnya Rp137 juta, tiba-tiba diberikan diskon menjadi Rp107 juta, dan bisa dicicil dalam tiga bulan. “Masya Allah,” ucap Dzibran haru kala itu.

Tak hanya itu, rumah yang selama ini mereka coba jual namun tak kunjung laku akhirnya dibeli orang. Biaya masuk kedokteran akhirnya bisa dibayarkan.

“Rezeki itu datang di ujung ikhtiar dan doa,” kata ibunya.

Photo
Photo

Antara Dakwah dan Taekwondo
Selain penghafal Al-Qur’an, Dzibran juga atlet taekwondo. Berbagai kejuaraan ia raih:
• Juara 1 Kyorugi Putra (2022)
• Juara 1 Kyorugi U-54 kg (2023)
• Juara 1 Kyorugi U-55 kg di Yogyakarta International Taekwondo Open 2023
• Juara 3 Kyorugi Junior Putra (2023)

Ia juga pernah menjadi imam salat Id disalah satu masjid dekat lapas, saat masih SMP. Pengalaman yang membuatnya tumbuh lebih percaya diri.

Baca Juga: Kesiapsiagaan Menghadapi Kerhutla, Begini Upaya Pencegahan KPH Tarakan

Photo
Photo


Mimpi yang Diikat Dalam Doa

Sejak SMP, Dzibran menuliskan impiannya untuk bisa umrah di selembar kertas, lalu ia laminating dan letakkan di bawah sajadah.

Setiap salat, ia berdoa. Tiga tahun kemudian, Allah kabulkan. November 2024, ia umrah sendirian.

Sebelum setiap lomba, Dzibran punya amalan yaitu membaca surah Yasin dan Al-Fath.

"Mungkin bagi orang lain itu cuma doa. Tapi buat saya itu senjata,” ujarnya.

Baca Juga: Rumah Potong Hewan di Tarakan Belum Penuhi Standar, Begini Penjelasan DKPP

 

Photo
Photo

Cium Kaki Ibu Sebelum Ujian
Ada satu kebiasaan Dzibran yang tak berubah, setiap akan tes atau lomba, ia selalu mencium kaki ibunya.

"Kalau gagal, saya anggap belum rezeki. Tapi saya selalu percaya restu ibu itu kunci,” katanya.

Ibu: “Saya Rela Banting Tulang, Asal Anak Saya Sukses”

Ibunya, Hj. Indriasari, adalah single parent yang membesarkan tiga anak. Anak kedua kini juga mondok. Ia sempat mendapat penolakan saat ingin meminjam uang, bahkan dari keluarga sendiri.

Baca Juga: Gubernur Lepas Kontingen Kaltara ke Fornas VIII NTB: “Bawa Pulang Medali dan Harumkan Nama Daerah!”

“Saya sering direndahkan, dibilang anak saya nggak mungkin masuk kedokteran. Tapi saya yakin, kalau anak saya sukses, saya juga ikut terangkat,” katanya.

Ia berpesan pada Dzibran: “Nak, apapun profesimu nanti, tetap rendah hati.”

Photo
Photo

Pesan Dzibran: Jangan Menyerah
“Untuk mama, terima kasih karena sudah jadi orang pertama yang selalu support. Perjuangan mama luar biasa buat saya dan adik-adik.”

Untuk anak-anak muda lain di luar sana, Dzibran berpesan, "Jangan menyerah. Kegagalan itu keberhasilan yang tertunda. Tetap berusaha, ikhtiar, dan jangan lupa doa. Restu orang tua itu paling utama.”(Eru)

Editor : Azwar Halim
#taekwando #fakultas kedokteran #tarakan #kaltara #hafiz quran