TARAKAN – Bea Cukai Tarakan mencatat capaian melampaui target penerimaan bea masuk dan bea keluar di tahun 2025. Capaian target tersebut pun didapatkan Bea Cukai Tarakan di semester pertama tahun 2025.
Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Tarakan, Andy Herwanto, mengungkapkan realisasi penerimaan pada bulan Mei 2025 telah mencapai total Rp 19,6 miliar lebih.
“Total penerimaan pada Mei 2025 sebesar Rp 19,6 miliar. Rinciannya untuk realisasi bea masuk sebesar Rp 18,3 miliar, denda administrasi bunga pabean Rp 760 juta, biaya keluar Rp 350 juta, serta denda administrasi cukai Rp 175 juta,” terang Andy.
Dibeberkan Andy, di tahun 2025 untuk bea masuk pihaknya ditargetkan sebesar Rp 13,8 miliar. Dengan realisasi Rp 18,3 miliar, apabila dipresentasekan mencapai 156 persen. Untuk Bea keluar realisasinya apabila dipresentasekan mencapai 191 persen.
Menurut Andy, mayoritas realisasi bea masuk berasal dari impor barang modal, khususnya yang berhubungan dengan industri Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI) yang masih terus berkembang.
"Ada juga komoditas impor lain seperti batu kreket, yang merupakan material bangunan, serta mesin-mesin industri," tuturnya.
Sementara itu, untuk penerimaan dari biaya keluar atau ekspor, produk utama yang menyumbang adalah vinir. Selain itu, hasil laut juga menjadi komoditas ekspor yang rutin dikirim ke luar negeri.
Komoditas ekspor lainnya termasuk produk pertanian.
Andy menambahkan, salah satu komoditas ekspor yang masih mendominasi wilayah Kaltara adalah batu bara yang banyak dikirim ke negara seperti Malaysia, Vietnam, dan Selimau. Namun, komoditas batu bara ini tidak dikenakan bea keluar.
“Untuk biaya keluar sendiri, biasanya berasal dari ekspor produk olahan kayu. Meski sektor perikanan juga memiliki produk ekspor seperti kepiting hidup dan beberapa hasil laut lainnya, namun tidak dikenakan bea keluar juga," sebutnya.
Terkait penerimaan Bea Cukai yang dipastikan akan terus naik, Andy mengungkapkan pihaknya masih memantau perkembangan industri dan kegiatan impor-ekspor. “Karena industri KIPI masih berjalan dan terus berkembang, kami optimistis ada potensi peningkatan penerimaan ke depan,” pungkasnya. (zar)