TARAKAN – Kejelasan terkait nilai bonus yang akan diterima oleh atlet peraih medali di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024 masih menjadi misteri. Pencairan anggaran bonus saat ini diketahui sedang berproses.
Namun mirisnya, para atlet yang telah berjuang mengharumkan nama Kalimantan Utara (Kaltara) di kancah nasional belum mengetahui nilai bonus yang akan diterima nantinya.
Ketua Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Kaltara, Steve Singgih Wibowo menyoroti ketidakjelasan tersebut dan menyatakan bahwa seharusnya para atlet sudah mengetahui jumlah bonus yang akan diterima sejak awal.
"Harusnya itu terkait bonus PON, kita harus tahu jumlahnya. Berapa bonus perorangan, beregu besar dan beregu kecil itu kita harus tahu. Jadi jangan jadi misteri gitu loh," katanya.
Menurut Steve, seharusnya masalah bonus ini sudah dibahas dalam rapat kerja (raker) KONI Kaltara. Sehingga tidak ada ketidakpastian seperti yang terjadi saat ini.
"Seperti kayak dulu lah. Diundang Pak gubernur saat raker. Kita ngobrol dan disetujui. Pak Gubernur waktu itu janjian Rp 300 juta untuk medali emas dan dapat satu mobil. Nah sekarang ini kan harusnya ya pertahankanlah kalau bisa," ungkapnya.
Steve juga mengusulkan agar bonus bagi atlet peraih medali disesuaikan dengan jumlah atlet. Sebab para atlet yang meraih medali, terdapat atlet perorangan, beregu kecil dan beregu besar.
"Saya rasa kalau beregu kecil wajarnya itu ya paling enggak Rp 500 juta lah atau Rp 600 juta untuk beregu besar," sebutnya.
Selain itu, Steve menekankan bahwa pelatih juga perlu dihargai dengan penghargaan yang sebanding. Ia berharap bonus yang diterima oleh pelatih, tidak berbanding jauh dengan bonus yang diterima para atlet. Lantaran keberhasilan para atlet, tidak lepas dari peran seorang pelatih.
"Kalau medali emas itu Rp 300 juta, saya rasa dia (pelatih) Rp 250 juta wajarlah," jelasnya.
Steve juga mengungkapkan bahwa seharusnya bonus ini melibatkan lebih banyak pihak, termasuk pemerintah daerah dan Dispora, karena yang dibawa oleh atlet adalah nama daerah, bukan sekadar nama KONI.
"Karena setiap kita tanding di PON, itu bukan KONI Kaltara dapat medali. Enggak, yang kita bawa itu Kaltara. Harusnya pemerintah ikut campur. Dispora ikut campur. Untuk menentukan bonus itu," tegasnya.
Menurutnya, bonus ini sangat penting dan tidak bisa dianggap remeh karena diberikan setiap 4 tahun sekali.
"Bonus ini, kita kejar bonus ini 4 tahun sekali loh. 4 tahun sekali ini. Jangan dianggap sekedarnya. Hargai perjuangan teman-teman. Apalagi atlet-atlet daerah ini dihargai gitu loh," tutup Steve. (zar)
Editor : Azwar Halim