TARAKAN – Masyarakat patut waspada seiring intensitas hujan yang tinggi. Kemarin (7/12), longsor terjadi pada sebuah bangunan yang masih dalam tahap pembangunan di Jalan K.H. Agus Salim, RT 9 Kelurahan Selumit, Tarakan Tengah.
Salah seorang saksi mata, staf di SDN 010 Tarakan Mudi Hariyanto mengatakan, sekitar pukul 07.45 WITA, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang cukup keras. Ia pun menengok keluar dan mendapati tembok bangunan telah rubuh.
“Masih hujan, saya langsung berlari menuju lokasi longsor,” katanya.
Saat menuju lokasi, Mudi melihat Putri Oktariani (16) terjepit di antara reruntuhan. Saat korban melintas, tembok menimpa dirinya. Kondisi korban juga cukup memprihatinkan, luka robek di bagian kepala dan tulang bagian belakang. “Korban dibawa ke rumah sakit, kepalanya itu berdarah, saya tidak tahu pastinya,” ungkapnya.
Diakuinya, bangunan tersebut bukan kali itu saja rubuh. Pernah material seng yang diletakkan di bangunan jatuh ke jalan, saat itu sang pemilik juga sempat ditegur warga. “Itu sudah dua tahun lalu, dan sekarang malah temboknya lagi yang rubuh ke jalan,” ungkapnya.
Bangunan tersebut telah lama berdiri dan belum juga selesai pembangunannya. Dikhawatirkan, muncul korban lain. Apalagi mengingat aktivitas warga di samping bangunan cukup tinggi. “Kalau pas kejadian ramai, lalu roboh temboknya, pasti akan menimbulkan kecelakaan yang sangat parah,” tuturnya.
BEBERAPA KALI DITEGUR WARGA
Aishati (40) saksi mata lain melihat korban mengantarkan adiknya ke sekolah sekira pukul 07.15 WITA. Saat kembali justru jadi korban tembok runtuh. “Dia habis antar adiknya. Waktu kembali tembok di sana runtuh dia juga pas di bawahnya, jadi dia tertindis lah,” terangnya.
Beruntung, warga sekitar sigap dan keluar dari rumah setelah mendengar suara tembok yang runtuh.
Sementara itu, Ketua RT 9 Kelurahan Selumit H. Jamal Kabba mengatakan, akses jalan yang terkena longsoran akan dibersihkan terlebih dahulu. Dari pemilik juga bertanggung jawab dengan mendatangi rumah sakit untuk menanggung biaya korban. “Semua ditanggung dari pemilik bangunan, baik korban maupun kebersihan jalanannya,” katanya.
Diakuinya tak ada tanda-tanda bahaya dinding bangunan tersebut akan rubuh. Gang Rambai aksesnya menghubungkan ke SDN 010 Tarakan dan rumah warga. “Setiap pagi di sini ramai, karena ada anak sekolah. Di sini hanya ada satu RT dan ada sekitar 40 rumah,” tuturnya.
BANGUNAN TAK ADA IMB
Sementara itu, Lurah Selumit Melki Loboran mengatakan, pihaknya telah menyampaikan kepada pemilik bangunan untuk menghentikan sementara pembangunannya. Pihaknya juga menginstruksikan kepada pekerja bangunan untuk membuat drainase di sekeliling bangunan.
Diketahui, bangunan tersebut tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). “Kalau dari bangunan memang satu bangunan ini belum memiliki IMB, jadi memang kami menghimbau masyarakat itu ketika ingin membangun harus mempunyai IMB. Jadi ketika ada IMB-nya jelas di situ ada gambar kontruksinya dia menggunakan apa, tiang apa, bentuknya seperti apa, drainasenya seperti apa dan sekarang setelah kejadian ini kami harapkan si pemilik segera mengurus IMB-nya kalau ingin membangun,” tuturnya.
Selain itu, ia menerangkan jika pihaknya sempat melakukan pelarangan aktivitas pengerjaan kepada pemilik bangunan. Walau demikian ia mengakui hingga hari ini aktivitas pembangunan masih berjalan.
“Jadi memang sebelumnya bangunan ini sudah kami tegur baik secara lisan ini sudah beberapa kali melalui RT setempat dari kami langsung juga. Tapi memang, yang punya belum mengurus IMB-nya, kata beliau masih dalam proses. Kami juga pernah menyurati pemilik untuk menghentikan aktivitas pengerjaan. Walaupun memang kenyataannya aktivitas pengerjaan masih dilakukan. Bangunan ini informasinya diperuntukkan untuk pabrik. Jadi memang ini sebenarnya bukan saja masalah bagi kami, tapi juga masalah di masyarakat karena bangunan ini,” ujarnya.
Atas isu pembangunan pabrik itu, kata dia, sehingga menyulitkan pemilik mendapatkan izin dari badan terkait. Selain berpotensi menciptakan polusi di tengah masyarakat, pabrik tersebut telah mendapat penolakan dari masyarakat.
“Pabrik styrofoam atau pabrik gabus. Memang ini akumulasi dari laporan masyarakat karena memang sebenarnya masyarakat ingin memberhentikan bangunan ini. Makanya saya sarankan kepada pemilik bangunan, ketika ingin membangun pabrik maka harus ada UPL-nya dari Dinas Lingkungan Hidup. Nah itu disertakan bersama IMB-nya dan ketika itu sudah dibuat dan disetujui oleh DLH saya kira tidak ada masalah,” terangnya.
“Dari BPBD juga tadi ikut turun ke lokasi dan sudah memberikan arahan kepada pemilik bangunan,” imbuhnya.
Sementara Prakirawan Cuaca, Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan Totok Dwi Suciyanto menjelaskan cuaca kemarin memang mulai dini hari hingga sore hari terjadi hujan dengan intensitas yang panjang dan cukup tinggi. Tetapi mulai hari ini dari pagi hingga sore hari cerah berawan.
“Terjadinya hujan yang nyaris terjadi seharian itu dikarenakan untuk Kalimantan Barat sempat terjadi borneo vortex, tetapi tidak berlangsung lama. Sehingga hari ini sudah kembali cerah berawan,” jelasnya.
Hujan kemungkinan akan turun, tetapi hanya terjadi hujan lokal saja dengan intensitas yang rendah. Sehingga masyarakat diimbau dan mewaspadai menjaga lingkungan tetap bersih terutama untuk aliran sungai menuju laut sehingga bisa lancar dan tidak mengalami hambatan. Serta tidak mengakibatkan genangan air di beberapa tempat, masyarakat juga tidak perlu khawatir, karena kondisinya masih aman dan terkendali.
Anggota Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan Abdul Razak menerangkan saat ini pihaknya telah memantau lokasi tersebut dan juga telah mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati karena kondisi tanah masih belum terlihat aman. “Kami sudah memantau lokasi dan membantu warga melakukan penanganan, kami juga menghimbau kepada warga untuk tetap waspada karena jalan ini digunakan masyarakat. Juga aktivitas sekolah sehingga harus berhati-hati supaya tidak ada lagi korban,” ujanya.
Mengenai jumlah kasus tanah Longsor di Kota Tarakan selama 2018 setidaknya ada 7 kejadian. “Ada 6 kasus yang longsor sejak Januari. Di Karang Balik 2 kasus, Pamusian 1 kasus, Sebengkok 1 kasus, Kampung Bugis 1, Kampung Enam 1 kasus dan hari ini Kelurahan Selumit 1 kasus,” bebernya.
Mengenai Lokasi rawan terhadap longsor, ia menerangkan kawasan yang rawan longsor sebagian besar berada di Tarakan Barat dan Utara. Rerata permukiman berada di lereng perbukitan seperti Karang Balik, Karang Anyar, Karang Harapan, dan Juata Permai.
“Di perbukitan Karang Balik itu yang kemarin terjadi sekali dua bencana longsor, perbukitan Karang Harapan dan Juata Permai. Untuk Tarakan Tengah juga ada beberapa spot rawan seperti permukiman di Selumit, di atas SMP 4 itu dan di bawah bukit Sebengkok, tepatnya di gang pemakaman umum itu,” terangnya.
Ia mengimbau kepada masyarakat agar tetap selalu waspada di saat musim penghujan. Serta melaporkan kepada RT terdekat jika melihat adanya tanda-tanda longsor segera mencari tempat yang aman.(*/naa/*/zac/lim)
Editor : Azwar Halim