Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Tak Punya Laptop, Kejar-kejaran dengan Durasi Sewa Warnet

Azwar Halim • Sabtu, 11 Agustus 2018 | 15:21 WIB
tak-punya-laptop-kejar-kejaran-dengan-durasi-sewa-warnet
tak-punya-laptop-kejar-kejaran-dengan-durasi-sewa-warnet

Beberapa karyanya sudah diproduksi secara nasional. Buku-buku berisi motivasi dan inspirasi tentang pendidikan, hingga usaha mendekatkan diri pada Allah telah banyak ditulis Muhammad Ramli. Seperti apa perjalanannya?


YUSTINA LUMBAA


MUHAMMAD Ramli, lahir di Malaysia pada 7 Februari 1991. Ramli kini sukses menjadi penulis. Semua itu merupakan pencapaian atas kegemarannya membaca dan menulis saat duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).


Ramli kecil, memang sangat menggemari tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Di zamannya, guru mata pelajaran memberinya tugas karangan indah.


Dari tugas itulah, kegemaran itu berlanjut sampai sekolah menengah atas (SMA). Berkembang, Ramli makin akrab dengan menulis puisi. Pada 2009 Ramli mulai aktif menulis cerita pendek (cerpen). Cerpen pertama yang ditulisnya itu berjudul "Doa untuk Mami Lisa". Cerpen itu ditulis di buku, bukan disimpan di laptop atau komputer lain.


“Alhamdulilah cerpen pertama itu akhirnya lolos lomba menulis dalam even yang diselenggarakan oleh Baca Tulis dengan tema Perjuangan Muslimah,” ujarnya senang.


Menulis memang merupakan hobi keduanya setelah membaca. Namun sekarang menulis tidak hanya sebatas hobi saja, tapi menjadi sarana baginya untuk berdakwah dan menebar inspirasi serta motivasi kepada banyak orang. Khususnya di kalangan remaja dan pemuda sehingga memaksimalkan waktu, potensi dan bisa lebih produktif.


Dari awal menulis hingga sampai saat ini, sangat banyak perkembangan signifikan. Apalagi sekarang, Ramli benar-benar memperhatikan ejaan hingga kualitas tulisannya.


“Selain itu, tulisan yang dulunya hanya bisa diterbitkan di indie, sekarang beberapa buku saya sudah diterbit di penerbit mayor dan sudah tersedia di seluruh Gramedia Indonesia,” katanya mengenang.


Kemampuannya menulis berdasar atas pengalaman dan juga metode dari berbagai media. Sejak awal menulis nyaris tidak ada pembimbing, kecuali referensi seperti buku. Menurutnya metode paling efektif adalah dengan dengan banyak membaca buku para penulis-penulis andal. Buku-buku best seller seperti Habiburrahman, Asma Nadia, Oki Setiana Dewi, A. Fuadi, Andrea Hirata, Ahmad Rifa'i Rifa'an. Selain itu sering banyak membaca di internet tentang metode menulis yang baik dan menonton.


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad).


Hadis ini pula yang memotivasinya untuk berbuat melalui tulisan. “Dengan tulisan saya, saya ingin setiap yang membacanya mengambil manfaat dan terinspirasi untuk berubah dan berbuat lebih baik lagi ke depannya,” ujarnya.


“Saya mulai menyelesaikan satu buku itu di akhir 2013. Dan alhamdulillah buku yang sudah terbit sampai sekarang sudah 10 buku, dan 3 buku lain sementara proses terbit dan insyaallah September dan November sudah tersedia di seluruh Gramedia Indonesia,” katanya bersemangat.


Ramli melalui banyak suka duka selama menulis. Awal menekuni kecintaannya itu, Ramli harus menulis di kertas karena tidak memiliki laptop. Dari kertas kemudian diketik ulang di laptop teman atau ke warung internet (warnet). Salah satu tantangannya kejar-kejaran dengan durasi sewa warnet.


 


Suatu ketika, Ramli selesai mengetik diketik di laptop teman, namun belakangan laptop tersebut rusak berikut dengan file di dalamnya. Keyakinannya, seberat apa pun ujian dari setiap usaha, maka akan ada hasil setelahnya.


Dalam menulis, Ramli berusaha tidak stress. Ketika ide itu muncul, maka ia langsung menulis. “Bahkan saat bengong juga sering mendapatkan ide, terkadang jika di kantor bengong sendiri langsung ada ide terlintas dan saat ada ide langsung saya tuliskan di catatan aplikasi handphone atau di kertas,” tambahnya.


Ramli sendiri memang belum mendapatkan penghargaan dalam menulis, tetapi pernah juara 2 dalam menulis tingkat nasional. Sehingga target ke depannya, ingin membuat program peningkatan minat baca masyarakat dan membuka kelas menulis.


“Selain itu target saya ke depannya khususnya di tahun 2018 harus menerbitkan 7 buku dan melakukan pelatihan penulisan,” ungkapnya.


Bahkan saat ini, dirinya berhasil masuk menjadi salah satu dari 10 penulis yang lolos mewakili Indonesia dalam kegiatan program penulisan majelis sastra Asia Tenggara (Mastera) yang akan dilaksanakan mulai 12 hingga 18 Agustus di Depok, Jawa Barat. Kegiatan tersebut adalah hasil seleksi seluruh penulis berbakat Indonesia. Adapun proses seleksinya adalah mengirimkan tulisan baru atau belum pernah dipublikasikan dan belum pernah dipublikasikan.


“Kegiatan ini diikuti oleh negara lain seperti Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam dan Singapura. Targetnya sih saya harus memberikan yang terbaik dan semoga ke depannya bisa menjadi perwakilan Indonesia dalam kegiatan penulisan tingkat dunia seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Habiburrahman, Andrea Hirata dan A. Fuadi,” pintanya. (***/lim)


Tak Punya Laptop, Kejar-kejaran dengan Durasi Sewa Warnet


 

Editor : Azwar Halim