TARAKAN - Perubahan budaya masyarakat adat di tengah perkembangan teknologi menjadi tema yang diangkat seniman asal Tarakan, Khusni Tamrin, dalam ajang Pameran Seni Nasional Borneo Metamorfosa yang akan digelar di Palangkaraya Kalimantan Barat pada Juli mendatang. Menariknya, Khusni menjadi satu-satunya seniman asal Kalimantan Utara yang terlibat dalam pameran berskala nasional tersebut.
Saat dikonfirmasi, Ketua Himpunan Seniman Seni Rupa Tarakan (Hisset) Tarakan itu menjelaskan, Borneo Metamorfosa merupakan pameran yang mempertemukan puluhan seniman dari berbagai daerah di Indonesia dengan tema besar mengenai perubahan budaya di tengah arus modernisasi.
“Peserta yang terlibat berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada dari Jawa, Bali, Sumatera dan daerah lainnya. Dari Kalimantan Utara saya yang ikut. Tema yang diangkat berkaitan dengan budaya di daerah masing-masing, apakah budaya itu masih statis atau sudah mengalami perubahan seiring perkembangan zaman,” ujarnya, Jumat (19/6).
Menurutnya, kurator pameran meminta setiap seniman menghadirkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki cerita dan dialektika yang kuat di baliknya. Karena itu, ia memilih mengangkat kehidupan masyarakat Suku Punan yang kini mulai beradaptasi dengan teknologi modern tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas budaya mereka.
Dalam karya yang dipersiapkannya, Khusni menggambarkan masyarakat Punan yang masih mengenakan cancut atau pakaian tradisional khas, namun sudah menggunakan berbagai perangkat modern seperti telepon genggam, jam tangan, hingga kompas.
“Saya mengambil tema tentang masyarakat Punan batu yang tetap memakai cancut, tetapi sudah memakai jam tangan dan memegang telepon genggam di tengah hutan. Ada juga yang membawa kompas. Artinya mereka sudah mulai menuju kehidupan modern, tidak lagi sepenuhnya berpatokan pada cara-cara tradisional,” terangnya.
Ia mengatakan proses penciptaan karya dilakukan secara bertahap dengan pendampingan kurator. Mulai dari penyusunan konsep, pembuatan sketsa awal hingga proses pewarnaan harus mendapatkan persetujuan kurator agar sesuai dengan tema besar pameran.
“Setiap pameran ada kuratornya. Jadi konsep awal dan sketsa yang kami buat harus dikonsultasikan terlebih dahulu. Setelah itu baru dilanjutkan ke tahap berikutnya hingga proses finishing,” jelasnya.
Bagi Khusni, keterlibatan dalam pameran nasional bukanlah pengalaman pertama. Seniman yang telah aktif puluhan tahun di dunia seni rupa itu mengaku sudah lebih dari 30 kali mengikuti berbagai pameran seni di tingkat regional maupun nasional. Bahkan di tahun 2026 ini dirinya mengikuti 2 pameran nasional yang akan dilaksanakan di Kalimantan.
“Kalau pameran seperti ini sudah lebih dari tiga puluh kali saya ikuti. Kadang ada jeda karena kesibukan pekerjaan lain, tetapi kalau ada undangan dan waktunya memungkinkan saya tetap ikut,” katanya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT