TIDENG PALE – Penyakit scabies atau kudis pada hewan ternak menjadi kasus paling dominan yang ditangani Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Tana Tidung sepanjang tahun 2025.
Penyakit kulit yang menyerang kambing dan kucing peliharaan ini tercatat mengungguli berbagai penyakit hewan lainnya selama periode Januari hingga Desember.
Pemerintah daerah melalui petugas kesehatan hewan telah melakukan pengobatan sejak awal kasus ditemukan.
Namun hingga kini, hewan ternak yang terjangkit masih berada dalam masa pemulihan yang diperkirakan berlangsung cukup lama.
“Pengobatan sudah kita lakukan. Sekarang ini masuk tahap pemulihan,” ujar Penelaah Teknik Kebijakan DPPP Tana Tidung, Dwi Budi Setiawan, kepada Radar Tarakan, Kamis (29/1).
Selain pengobatan, DPPP juga gencar melakukan sosialisasi langsung kepada para peternak.
Peternak diimbau untuk tidak melepas kambing atau hewan yang telah diobati meskipun sudah menunjukkan
tanda-tanda sembuh.
Pasalnya, hewan yang dilepas berisiko bercampur dengan ternak lain yang masih terinfeksi, sehingga dapat memicu kambuhnya penyakit sekaligus mempercepat penyebaran scabies ke wilayah lain.
Scabies dikenal sebagai penyakit kulit menular yang menyebabkan gatal parah menyerupai kudis. Penyakit ini tidak hanya menular antar ternak, tetapi juga berpotensi menular ke manusia.
Karena itu, peternak diminta meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat yang berkunjung ke kandang ternak terjangkit disarankan segera mandi dan mengganti pakaian sebelum kembali ke rumah atau memasuki kandang lain.
Tak hanya peternak, petugas lapangan pun diingatkan untuk menerapkan langkah antisipasi saat melakukan pengobatan. Penggunaan alat pelindung diri (APD), menjaga kondisi tubuh tetap prima, serta mandi dan berganti pakaian setelah turun lapangan menjadi prosedur wajib untuk mencegah penularan.
Berdasarkan data DPPP, kasus scabies paling banyak ditemukan di sejumlah desa, antara lain Bebatu, Bandan Bikis, Sebidai, Sepala Dalung, Sesayap Selor, Tideng Pale, dan Tideng Pale Timur.
"Kita antisipasi agar penyakit ini tidak menyebar sampai desa lain," ujarnya.
Dari total 40 kunjungan layanan kesehatan hewan selama 2025, sebanyak 40 persen atau 154 ekor ternak dan kucing perliharaan terjangkit scabies.
Penyakit terbanyak berikutnya yakni avitaminosis 20 persen (80 ekor), cacingan 18 persen (60 ekor), malnutrisi 16 persen (86 ekor), serta feline viral rhinotracheitis 14 persen (54 ekor).
Penelaah Teknis DPPP, Wawan, mengungkapkan bahwa munculnya scabies dipicu oleh beberapa faktor utama, seperti masuknya ternak dari luar daerah tanpa pengawasan ketat, kondisi kandang yang kotor dan becek, serta aktivitas jual-beli ternak yang mempercepat penyebaran penyakit.
“Banyak pengadaan kambing dari luar daerah. Selain itu, kandang yang jarang dibersihkan juga menjadi pemicu utama,” jelasnya.
Sebagai langkah lanjutan, DPPP akan terus melakukan monitoring hasil pengobatan secara berkala setiap enam bulan sekali guna memastikan penanganan scabies berjalan optimal. (ana/lim)