Berawal dari ide sederhana untuk memanfaatkan lahan tak terpakai pada 2022. Kini berhasil mewujudkan kemandirian pangan serta hasil panen sayuran yang dijual dengan harga terjangkau. Tak hanya itu, penjualan bibit juga digencarkan.
RADEN RORO MIRA, Samarinda
LAHAN kosong seluas lebih dari satu kavling di RT 40, Perumahan Daksa, Jalan Jakarta, Loa Bakung, kini menjelma menjadi kebun produktif berkat kegigihan ibu-ibu dasawisma.
"Awalnya, lahan ini dipinjamkan. Melihat lahan kosong tidak dikelola, RT menyarankan untuk membuka kebun. Kami, ibu-ibu dasawisma, dengan 10 anggota, langsung bersemangat," ungkap Dwi Sulistyowati.
Diceritakan jika lahan yang ditawarkan sebelumnya berada agak jauh dari rumahnya. Namun Dwi melihat potensi lahan yang lebih luas, dengan lokasi yang tidak terlalu jauh. Kesepakatan pun dibuat, lahan dibersihkan dan mulai ditanami.
Modal awal kebun berasal dari patungan anggota untuk membeli bibit. Para bapak di lingkungan setempat turut membantu membuka lahan.
“Hasil panen kami jual, meskipun ke anggota sendiri, untuk membiayai operasional kebun. Kami menghindari minta bantuan atau sumbangan," jelas Dwi.
Singkat cerita, seorang kawan pun mengusulkan untuk membuat proposal. Agar diberi bantuan paket pertanian dari program Pekarangan Pangan Lestari (P2L).
Pada 2023, dijelaskan Dwi jika sudah diajukan dan ditinjau. Namun karena hal lain, pemberian bantuan ditunda hingga 2024.
Diakui Dwi jika pihaknya tidak bergantung pada bantuan yang diberikan. Mereka tetap fokus mengelola kebun secara swadaya dan mandiri. Komoditas pertama yakni cabai dan terong. Hasilnya cukup untuk kemandirian pangan anggota dan warga sekitar.
Setelah bantuan diberikan, mereka jadi lebih giat. Keanggotaan bertambah hingga 20 orang. Lahan dimaksimalkan dengan ditanami berbagai sayuran.
Mulai kangkung, timun, kemangi, tomat, labu, daun bawang, pepaya, hingga daun sop. Masih dalam episode ketahanan pangan, hasil panen dinikmati warga sekitar perumahan.
“Soalnya mereka yang beli ini bilang, kalau lebih enak beli di kebun kami. Selain sayurannya segar, langsung dipetik, harga juga lebih mudah dibanding ke pasar. Jadi penyerapan hasil panen untuk sekitar warga perumahan juga sudah banyak,” sebut Ketua P2L Sejahtera 1 itu.
Jika memang hasil panen sedang melimpah, semua anggota dan warga sudah kebagian, barulah hasilnya dibawa ke pasar.
“Kayak pas panen kemangi itu banyak, kita jual ke pasar,” lanjut perempuan kelahiran 1978 itu.
Sejak bulan lalu, sesuai namanya yakni P2L, pihaknya membagikan bibit gratis kepada warga RT yang berminat untuk menanam di pekarangan rumah masing-masing. Mulai bibit cabai, terong, tomat hingga daun sop.
Selain menjual hasil panen, juga menjual bibit sayuran.
"Kami mulai menjual bibit sejak akhir tahun lalu. Ada yang pesan 50 bibit. Meski masih skala kecil, penjualan bibit ini jadi sumber pendapatan tambahan untuk pengelolaan kebun. Kendala memang masih di pemasaran,” ungkapnya.
Mereka telah membuktikan bahwa dengan semangat gotong royong dan kemandirian, lahan kosong bisa disulap menjadi kebun produktif yang bermanfaat bagi warga sekitar.
Ke depan, pengembangan terus dilakukan. Termasuk menggencarkan pemasaran untuk bibit. (ndu/jnr)
Editor : Azwar Halim