Program Go Green sudah berjalan cukup lama di Balikpapan. Melalui gerakan clean, green, and healthy (CGH) sejak 18 tahun lalu.
GERAKAN CGH sempat booming awal-awal diterapkan. Berbagai lomba dan pelibatan warga secara masif membuat gerakan ini sangat intens. Sayangnya upaya penghijauan ini makin hari terasa kurang konsistensi, kesungguhan, dan inovasi.
Wali Kota Balikpapan periode 2011-2021 Rizal Effendi sebagai tokoh masyarakat menyampaikan pendapat tersebut saat hadir di focus group discussion (FGD) Go Green. Berlokasi di Universitas Mulia, Kamis (12/9).
Dia mengatakan, pemerintah daerah sebelumnya sudah melakukan berbagai gerakan untuk mendorong warga dekat dengan alam. Misal pembangunan SMA 8 di kawasan Mangrove Margomulyo, Balikpapan Barat.
Tujuannya agar siswa bisa mencintai mangrove yang sangat dibutuhkan dunia. Lalu membangun SMA 9 di Balikpapan Utara agar dekat dengan Kebun Raya Balikpapan. Sehingga cinta dan dekat dengan hutan lindung sebagai sumber tangkapan air.
Kemudian gerakan bagi calon pengantin harus memberi pohon. Hingga fasilitas material recovery facility (MRF) di Gunung Bahagia. Warga membuang sampah sesuai jadwal dan melakukan pemilahan sampah.
“Tapi intinya semua butuh konsistensi,” katanya. Padahal sudah ada contohnya lewat keberadaan pohon atau menjaga hutan, daerah bisa mendapatkan dana bantuan. Yakni dana perdagangan karbon atau udara segar.
“Itu baru Kaltim yang mendapatkan dana perdagangan karbon,” imbuhnya. Menurutnya kehadiran tokoh lingkungan sekaligus inisiator Glintung Go Green Bambang Irianto sudah menjelaskan contoh gerakan sosial yang konsisten dan berinovasi.
Dia mendorong masyarakat bersama-sama membuat pembenahan Balikpapan. Misal bisa mulai dengan adopsi gerakan menabung air (Gemar). “Kalau hujan banyak air tapi kalau kemarau kesulitan air. Bahkan hujan tetap kurang air,” sebutnya.
Meski sudah ada konsep tata ruang 52 persen ruang terbuka dan 48 persen bangunan. Rizal melihat bisa saja suatu saat konsep ini berubah. Mengingat jumlah penduduk yang terus bertambah.
Dia mengajak RT berperan kembali mengembalikan kota yang nyaman huni. Walau Balikpapan setiap tahun masih selalu menerima Adipura Kencana. “Tapi jangan sampai ruhnya hilang, tidak ada semangat RT menghijaukan wilayahnya,” tuturnya.
Sementara itu, CEO Balikpapan Water Forum Agung Sakti Pribadi mengatakan, pihaknya menggelar acara ini karena memiliki perhatian pada dua persoalan utama di Kota Beriman. Di antaranya menyelesaikan masalah banjir dan krisis air baku.
Dia berharap, kedua masalah ini bisa selesai dalam lima tahun ke depan. Caranya bisa melihat contoh kasus di Surabaya.
Pemkot Surabaya bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk mencari solusi.
Artinya melibatkan perguruan tinggi untuk mengatasi banjir. “Sekarang Surabaya sudah jauh lebih bagus. Maka bisa melibatkan masyarakat, ahli, akademisi. Jadikan Balikpapan kota dengan konsep bersih, indah, aman dan nyaman (Beriman),” pungkasnya. (ms/jnr)
Editor : Azwar Halim