Seiring laju zaman, manusia kini berada dalam derasnya arus teknologi cerdas yang ditandai dasyatnya kecerdasan buatan/Artificial Inteligen (AI). Teknologi cerdas ini membawa banyak kemudahan dalam pekerjaan dan efisiensi-dengannya terbuka ruang yang lebar untuk kemajuan dalam berbagai bidang; namun tidak tanpa persoalan ketika orang hanyut dalam arus deras disrupsi Artificial Intelligen, yang bermuara pada tergusurnya eksistensi manusia. Untuk itu, eksistensi manusia sebagai subjek peradaban dunia termasuk subjek dari perkembangan AI perlu dipertegas lagi.
Manusia dianugerahi akal budi dan kehendak bebas, dengannya manusia bisa berpikir, memiliki kesadaran dan tanggung jawab. Anugerah istimewah ini menempatkan manusia menjadi subjek peradaban, termasuk subjek perkembangan kecerdasan buatan/AI. Manusia sebagai subjek atas perkembangan AI berarti manusia menjadi pencipta, pengguna, pengendali utama dan penentu arah perkembangan teknologi AI. Dalam hal ini, AI menjadi asisten cerdas bagi manusia, bukan menggantikan manusia.
Sebagai subjek perkembangan teknologi, manusia mengalami berbagai kemudahan/efisiensi. AI banyak membantu pekerjaan manusia, misalnya dalam bidang kesehatan, pendidikan, industri, dan bidang lainnya. Orang bisa nyaman dan efisien bekerja, belajar, beramal, dan membangun relasi sosial dengan bantuan aplikasi-aplikasi berbasis AI. Akan tetapi, perkembangan AI tersebut menjadi tantangan tersendiri yang dapat mereduksi manusia menjadi objek AI. Jika manusia tidak bijak/kritis dalam menghadapi arus deras perkembangan AI, maka manusia bisa teralienasi/terasing dari dirinya maupun dari sesamanya. Ketika banyak pekerjaan diambil alih oleh teknologi digital atau kecerdasan buatan (AI) maka manusia bisa menjadi malas dan tidak kreatif. Paus Leo XIV, dalam pesannya untuk hari komunikasi sedunia ke-60 tahun 2026, menegaskan bahwa melepaskan kreativitas dan menyerahkan kapasitas mental serta imajinasi kita kepada mesin berarti mengubur bakat yang telah diberikan kepada kita untuk tumbuh sebagai individu dalam hubungan dengan Tuhan dan sesama. Itu berarti menyembunyikan wajah kita dan membungkam suara kita.
Selain itu, penggunaan AI tidak terlalu menjamin keamanan dan privasi karena AI memproses data dalam jumlah besar dan membuat keputusan secara otomatis. Hal ini bukan tidak mungkin dapat menimbulkan kebocoran data pribadi, penipuan identitas dan penyalahgunaan data pribadi, serta serangan/kejahatan siber berbasis AI. Informasi atau data dalam AI juga memiliki kemungkinan bias dan tidak akurat. Dominasi teknologi cerdas AI ini bisa juga menjadi ancaman relasi personal dengan sesama. Ketika manusia menjalin relasi dengan sesamanya hanya melalui teknologi digital tanpa relasi personal atau perjumpaan, maka hal ini dapat merusak tatanan sosial dan budaya dalam masyarakat. Manusia akhirnya direduksi menjadi data dan angka; dan ketika algoritma menjadi penentu utama, manusia hanyalah objek yang kehilangan ruang untuk refleksi dan pilihan etis.
Lebih dari itu, AI tidak dapat meniru manusia sepenuhnya. Sebagai makhluk berakal budi, salah satu kekhasan manusia yang tidak dimiliki AI adalah kemampuan untuk berpikir dan memberikan pertimbangan moral. Kecerdasan buatan/Artificial Intelligen (AI) tidak memiliki kapasitas untuk memberikan pertimbangan moral etis. Para filsuf telah membahasnya berabad-abad lalu, di antaranya filsuf Descartes. Filsuf Prancis ini pernah mengatakan: “sesungguhnya sangat mungkin bahwa sebuah mesin dapat dibuat untuk mengucapkan kata-kata, dan bahkan kata-kata yang memungkinkan hadirnya tindakan fisik, misalnya, jika mesin itu disentuh pada satu titik tertentu, maka ia akan menanyakan/memenuhi keinginanmu. Namun mesin ini tidak akan pernah mampu mengubah frasa yang sudah tertanam dalam dirinya untuk menanggapi segala macam pertanyaan atau perintah secara tiba-tiba, suatu hal yang bahkan bisa dilakukan oleh orang yang paling bodoh” (Descartes, 1637). Secanggih apa pun, AI tidak memiliki kemandirian berpikir sebagaimana manusia. AI dapat memberikan jawaban dan keputusan berdasarkan rumus-rumus yang tertanam dalam sistem, sedangkan manusia tidak pernah terikat pada rumus-rumus mana pun (Gut, 2020).
Karena itu, mempertegas eksistensi manusia sebagai subjek atas perkembangan AI merupakan conditie sine qua non (tidak bisa tidak). Manusia harus tetap menjadi pengendali, pengambil keputusan dengan mempertimbangkan aspek etika, empati, dan tanggung jawab sosial. Manusia tetap menjadi subjek perkembangan AI ketika manusia sebagai anak zaman mengambil sisi positif dari berbagai perkembangan dunia teknologi untuk membantu, memperlancar segala pekerjaan manusia. Namun tetap membentengi diri dengan etika/moral, senantiasa merefleksikan diri dan menyadari diri sebagai subjek perkembangan AI. Sonideritus B. (2025) menegaskan bahwa manusia di era digital harus memiliki benteng yang kuat untuk mengendalikan diri dari berbagai tawaran yang menggiurkan. Kemampuan berefleksi sangat membantu agar manusia tetaplah menjadi subjek atas perkembangan AI.
Mempertegas eksistensi manusia sebagai subjek perkembangan AI merupakan salah satu cara menjaga suara dan wajah manusia sebagaimana pesan Paus Leo XIV. Menjaga wajah dan suara berarti menjaga diri kita agar tidak dikuasai atau diperbudak oleh teknologi, tetap membuka diri terhadap berbagai tawaran positif dari teknologi namun tetap kritis dan bijak terhadap berbagai kompleksitas dan risiko yang muncul. Manusia sebagai subjek berarti teknologi harus difungsikan untuk memfasilitasi relasi, bukan menciptakan simulasi hubungan yang menghilangkan sisi kemanusiaan. Di sinilah urgensi kehadiran fisik dalam perjumpaan dan komunikasi langsung, bukan sekadar berinteraksi dengan AI atau simulasi digital.
Upaya mempertegas eksistensi manusia sebagai subjek perkembangan AI ini tentu membutuhkan tanggung jawab dan kerja sama dari berbagai pihak entah dari masyarakat, individu, pihak pemerintah, penegak hukum, dan pengembang media teknologi. Selain itu, diperlukan penguatan di bidang pendidikan khususnya melalui literasi digital agar tidak mudah terjadi penyalahgunaan AI. Penguatan literasi digital memampukan manusia untuk memanfaatkan AI secara lebih proposional sekaligus memperkuat jati dirinya sebagai subjek AI. Kiranya tema ini relevan dengan ensiklik Magnifica Humanitas, ensiklik pertama Paus Leo XIV yang menekankan perlindungan martabat manusia di zaman kecerdasan buatan. Selamat menyongsong dirilisnya ensiklik ini ke publik pada tanggal 25 Mei 2026.
Editor : Rahul