Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Refleksi Pesan Paus Fransiskus: Sinodalitas Menangkal Isu Intoleransi

Azwar Halim • Senin, 8 Mei 2023 | 16:37 WIB
Photo
Photo
PADA tanggal 09 April 2023, umat Katolik seluruh dunia merayakan Paskah-perayaan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus sebagai sang Juru Selamat bagi Umat Manusia. Makna dari perayaan Paskah adalah manusia dibersihkan dari dosa dan akan memulai kehidupan yang baru.

Tiga belas hari kemudian, tepatnya tanggal 22 April 2023, Umat Muslim merayakan hari raya Idul Fitri. Perayaan ini juga sebagai tanda kembalinya seseorang kepada keadaan suci atau keterbebasan diri dari dosa dan kesalahan sehingga berada kembali dalam kesucian atau fitrah.
Artinya kedua perayaan besar agama samawai ni memiliki satu makna yang sama yaitu manusia bebas dari dosa dan kembali menjalani hidup baru sebagai manusia yang suci atau fitrah.
Dalam dua perayaan besar ini, umat kedua belah pihak saling menghargai, saling membagi kasih dalam perbuatan atau tindakan nyata. Sebagai contoh, selama perayaan Pekan Suci yang dirayakan oleh umat Katolik, hadirlah aparat keamanan dari pihak kepolisian dan Brimob yang memantau dan mengamankan jalannya perayaan pekan suci oleh umat Katolik.
Karena saat yang sama, aparat keamanan yang menjaga keamanan semuanya beragama Islam dan sedang menjalani puasa, maka umat Katolik melalui pengurus gereja menyiapkan snack agar mereka bisa berbuka puasa di lokasi perayaan sambil tetap menjalankan tugas pelayanannya menjaga keamanan.



Apa yang mau kita maknai dari aksi solidaritas ini? Apa yang dilakukan oleh aparat keamanan dan umat Katolik adalah bentuk dorongan hati untuk saling membagi kasih. Paus Fransiskus mengatakan bahwa hatilah yang mendorong kita untuk membagi kasih dengan orang lain. Hati juga yang menggerakkan kita agar menciptakan komunikasi yang terbuka dan ramah dengan orang lain.


Gereja Katolik sebagai gereja universal selalu membuka diri dalam menjalin komunikasi dengan umat beragama lain dalam bingkai cinta kasih dan kedamaian.
Paus Fransiskus dalam pesannya mengatakan bahwa sekali kita mendengarkan orang lain dengan hati yang murni, maka kita juga akan mampu berbicara mengikuti kebenaran kasih.
Pada intinya bahwa kemurnian hati adalah kemampuan untuk mendengarkan dan melihat orang lain dengan penuh perhatian dan empati. Oleh karena itu, hati yang murni sangat penting dalam membangun komunikasi dengan orang lain sehingga ketika kita mendengarkan orang lain, kita dapat lebih muda mengetahui kebutuhan mereka dan tepat memberikan bantuan.
Tidak hanya hati yang murni tetapi kita juga perlu keterbukaan dalam membangun komunikasi. Komunikasi yang terbuka dapat membantu individu membangun hubungan yang lebih dekat dengan orang lain, rasa percaya diri dan memecahkan masalah dengan cara yang lebih efektif.
Untuk itu setiap individu diminta agar mengungkapkan diri secara jujur tanpa takut direndahkan, ditolak atau dihakimi oleh orang lain. Setiap individu berhak memiliki pandangan dan opini untuk didengar dan dihormati oleh orang lain.
Selain membangun komunikasi yang terbuka, perlu ada komunikasi yang ramah dengan sikap rendah hati. Komunikasi yang ramah dapat membantu kita memecahkan masalah agar meraih tujuan bersama.
Untuk itu, ketika membangun komunikasi yang ramah dengan orang lain perlu kita memperhatikan hal-hal berikut:
⮚ Mendengarkan dengan penuh perhatian
⮚ Menggunakan bahasa tubuh yang positif
⮚ Menghargai perspektif orang lain
⮚ Mengucapkan terimakasih dan memberi pujian.


Gaya berbicara dengan seseorang merupakan cermin diri kita akan rasa empati kepada orang lain. Berbicara dengan lembut dan sopan serta memberikan pujian mencerminkan rasa cinta dan perhatian kita terhadap orang yang kita ajak bicara. Dengan demikian gaya komunikasi seseorang dapat mempererat hubungan dengan orang lain.
Homo homini socius adalah sebuah istilah latin yang menempatkan manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Namun banyak juga manusia menjadi Homo homini lupus atau menjadi serigala bagi manusia yang lain.
Dalam situasi seperti ini gereja hadir mendengarkan suara umat dengan cara bersinode. Bersinode atau “berjalan bersama” menjadi undangan utama dari gereja untuk saling mendengarkan dan berdialog satu sama lain sehingga bisa memupuk rasa keakraban dan bela rasa bukan menjadi musuh antar sesama umat.
Dengan cara berjalan bersama (sinode), Gereja akan hadir setia melaksanakan misi yang dipercayakan kepadanya. Maka persekutuan umat beriman diundang untuk berpartisipasi menjalankan misi atau perutusan.
Semua anggota Gereja, baik klerus (tertahbis), anggota hidup bakti (religius dan sekular) maupun awam, yang tersebar dalam berbagai kelompok (paroki, stasi, lingkungan, basis, kelompok-kelompok kategorial/ paguyuban, komunitas hidup bakti) diundang untuk saling berbagi dan mendengarkan kisah pengalaman iman agar dapat mendengar bisikan Roh Kudus, hingga dapat bersama-sama melaksanakan misi atau perutusan di dunia ini dengan lebih baik.


Di Tengah isu radikalisme dan intoleransi antar umat beragama, sinodalitas atau kebersamaan Gereja sangat ditekankan karena hal itu merupakan “modus vivendi (cara hidup) dan modus operandi (cara bertindak)” khusus Gereja.
Gereja tidak boleh bertindak dengan tidak memihak kepada umat Allah. Karena dalam dan melalui kebersamaan ini, umat Allah mewujudkan diri sebagai persekutuan (communio) yang berjalan bersama, berkumpul, dan mengambil bagian (participatio) secara aktif dalam melaksanakan misi atau perutusan (missio) mewartakan kasih Allah.
Gereja akan bergerak keluar dan menjadi saksi seperti sikap para rasul yang bersaksi akan kebangkitan Yesus Kristus:“Kami tidak mungkin untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan kami dengar” (Kis 4:20). (*/penulis merupakan ketua DPP Gereja Katolik Nunukan/har)

 

har) Editor : Azwar Halim
#toleransi #nunukan