HASIL akhir dari proses ibadah puasa ialah la’allakum tattaqun, supaya menjadi orang yang bertakwa kepada Allah. Implementasi nilai-nilai ketakwaan pada diri manusia dapat tercermin pada sikap dan tindakannya benar dan jujur dalam segala urusan.
Perbuatan benar dan jujur merupakan hal penting dalam kehidupan manusia. Dasar kesucian ajaran agama Islam bertumpu pada kebenaran dan kejujuran itu. Benar dan jujur untuk memperoleh tempat yang tinggi dan terhormat didalam ajaran Islam, terbukti adalala siddiq merupakan sifat wajib utama dan pertama para nabi dan rasul utusan Allah di muka bumi.
Adalah Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul Allah, beliau dikenal sebagai orang yang paling jujur dalam segala hal, hingga beliau mendapat gelar “Al Amin”, manusia paling benar, jujur dan terpercaya. Suatu derajat kemuliaan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW diawali dengan sifat-sifat terpuji, benar dan jujur.
Sekolah kejujuran mengikuti proses puasa selama satu bulan ramadan ini. Yang mengetahui bahwa kita berpuasa atau tidak, itu hanya diri kita dan Allah SWT. Puasa karenanya, mendidik kita untuk jujur pada diri sendiri. Oleh sebab itu, Allah menggambarkan kedudukan atau derajat orang-orang yang jujur sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rsul-Nya, mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu; Nabi-nabi, para shiddiqin, orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang terbaik.” (QS. An-Nisa: 69).
Bayangkan, berdasarkan ayat ini orang-orang jujur hasil dari proses puasa mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya la’allakum tattaqun, disejajarkan derajat dan kemuliaan mereka dengan para nabi dan Rasul Allah SWT, satu kenikmatan tiada tara. Kalau kita perhatiakan realitas kehidupan dewasa ini, tampaknya sifat-sifat kejujuran dan kejujuran terasa kian langka. Maka itu, Nabi Muhammad saw menyerukan dalam sebuah hadis, sabdanya, “Sesungguhnya kejujuran itu mengarahkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu mengarahkan ke surga. Dan sesungguhnya ada seseorang itu berbuat jujur hingga tertulis di sisi Allah sebagai shiddiq, orang benar. Dan sesungguhnya kebohongan itu mengarahkan kepada kejahatan, dan kejahatan itu mengantar ke neraka. Dan sesungguhnya ada seseorang itu berbuat bohong hingga tertulis di sisi Allah sebagai pembohong.”
Dari informasi ayat Allah dan Hadis Nabi SAW tersebut, jelaslah bagi kita betapa pentingnya sikap jujur dan perbuatan benar dalam kehidupan ini. Dengan kejujuran akan mendatangkan kebaikan-kebaikan. Dari dunia ini hingga ke kehidupan akhirat kelak. Sebaliknya, ketidakjujuran, kebohongan mendatangkan malapetaka di dunia maupun di akhirat.
Apabila kita kaitkan ketidakjujuran atau kebohongan ini dengan kondisi kehidupan negara kita saat ini, kiranya kita dengan mudah mengetahui sebab keterpurukan yang dirasakan oleh rakyat akibat semata oleh prilaku korupsi (ketidakjujuran dan kebohongan) yang tidak senonoh elit politik pemimpin negeri ini. Bukti dari semua itu banyak sekali dan dengan kasat mata dapat disaksikan oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Tindakan manipulatif, keculasan dan kebohongan hampir terjadi disemua lembaga tinggi negara. Masyarakat umum pun terjangkiti penyakit itu. Contoh hal ini terlihat dalam setiap pemilu, anda wani kasih kami piro? maka kami pilih Anda. Sepertinya, sudah tak ada tindakan menguntungkan tanpa aksi tipu menipu.
Maka itu, pertahankanlah hasil akhir dari satu bulan Ramadan ini, yang terbentuk melalui proses puasa sekolah kejujuran dan kebenaran. Rasulullah SAW berpesan dalam Sabdanya: Pertahanlah kejujuran. Jika engkau lihat di dalamnya terdapat kerusakan, ketahuilah sesungguhnya dalam kejujuran itu terdapat keselamatan.
Allah berfirman, “Ini adalah suatu hari (akhirat) yang bermanfaat bagi orang-orang yang berlaku benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal didalamnya selama-lamanya; Allah rida terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (QS. Al-Maidah: 119). (*/lim)
Baca berita selengkapnya di Koran Radar Tarakan atau berlangganan melalui Aplikasi Radar Tarakan yang bisa di download di :
Editor : Azwar Halim