Koordinator Pelatih Tari Jepen, H. Surai merasa bangga, karena tarian khas suku Tidung tersebut, ditarikan oleh semua suku yang ada di Nunukan. “Ada kurang lebih 567 penari dari berbagai kalangan, bukan hanya dari suku Tidung saja, semua suku yang ada di Nunukan, semuanya menarikan,” ujar Surai, usai ikut menari, Kamis (12/10).
Menjelaskan makna tarian, Surai mengatakan, impong de lunas insuai, merupakan bahasa suku Tidung, yang memiliki makna, ‘Jangan terpecah belah dalam satu tujuan yang sama’. Hal tersebut merupakan upaya suku Tidung menyatukan perbedaan dan bersatu padu, bekerja bersama untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Bahasa itu juga menjadi semboyan suku Tidung.
Dilanjutkannya, hanya ada empat gerakan sederhana dalam tarian tersebut. Kendati demikian, setiap gerakan memiliki arti dan makna filosofi mendalam. Di dalamnya terkandung pesan persatuan, dan mengajak setiap individu untuk mawas diri. Selalu ingat akan siapa diri kita, sehingga tidak melupakan sang pencipta.
Gerak pertama dari tarian impong de lunas insuai, adalah gerakan sembah, dimana penari menyatukan kedua telapak tangan layaknya salam namaste. Gerakan tangan dari bawah ke atas dengan posisi tangan bersedekap dan posisi tubuh sedemikian rupa, mengartikan tunduk dan penghambaan kepada Sang Pencipta, Allah SWT.
Selanjutnya, ada gerak ‘pilamboi’, tangan seakan meraup sesuatu, yang memiliki makna memohon rejeki yang berkah dan bermanfaat. Gerak ketiga, posisi badan miring dengan pinggang rendah dan tangan melambai dengan jari-jari menari sedemikian rupa, memiliki arti selalu bekerja sama tanpa membedakan keyakinan, atau suku dan kasta.
Gerakan terakhir, dengan posisi tubuh seakan rukuk dengan kepakan tangan dan gerakan jari lentik penari, melambangkan keharmonisan ketika semua telah menyatu dalam perbedaan yang ada. “Semua gerakan, dipadupadankan dan memiliki arti serta makna kebhinekaan, atau dalam bahasa Tidung, Impong De Lunas Insuai,” terang Surai.
Tarian, kemudian ditutup dengan tari semajau, sebuah tarian kebahagiaan yang biasa ditampilkan saat acara adat, pesta panen, serta perkawinan. Semajau sendiri, berarti bergembira bersama. Tarian Semajau, juga menjadi ciri khas suku Murut.
“Tidak ada gerak khusus seperti tarian lain. Joget senyamannya saja sesuai iringan musik. Dan diakhiri dengan bergandengan tangan bersama, itulah sebuah kekompakan, dan kebersamaan,” beber Surai. (raw/lim) Editor : Azwar Halim