BRI Terbitkan Surat Berharga Komersial Rp500 Miliar, Perkuat Likuiditas dan Pendalaman Pasar Uang Nasional
Radar Tarakan• Selasa, 13 Januari 2026 | 11:37 WIB
Photo
Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI secara resmi menerbitkan Surat Berharga Komersial (SBK) dengan nilai sebesar Rp500 miliar.
Penerbitan ini menegaskan positioning strategis BRI sebagai market leader dalam pengembangan pasar keuangan Indonesia, sekaligus menjadi bagian dari strategi pengelolaan likuiditas jangka pendek yang berkelanjutan.
Adapun penerbitan SBK ini turut mendukung kebijakan Bank Indonesia dalam pendalaman pasar keuangan nasional.
Peluncuran SBK BRI yang digelar di BRILiaN Club pada Senin (12/1/2026) dihadiri oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae, Direktur Utama BRI Hery Gunardi, Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu, serta Direktur Treasury & International Banking BRI Farida Thamrin.
Sejumlah mitra strategis juga turut hadir dalam kegiatan ini, antara lain PT Mandiri Manajemen Investasi, PT BRI Manajemen Investasi, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, PT BNP Paribas Asset Management, dan PT Syailendra Capital.
SBK BRI memperoleh peringkat IdA+ (highest short term rating) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), atau setara dengan peringkat AAA untuk surat utang jangka panjang. Peringkat ini mencerminkan tingkat keandalan dan kemampuan BRI dalam memenuhi kewajiban keuangan secara tepat waktu.
Dalam struktur penerbitan ini, BRI bertindak sebagai penerbit dan bekerja sama dengan BRI Danareksa Sekuritas selaku arranger. Penerbitan tersebut menjadikan BRI sebagai bank pertama di Indonesia yang menerbitkan Surat Berharga Komersial (SBK), sesuai dengan Peraturan Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia Nomor 13 Tahun 2024 tentang Transaksi Pasar Uang.
SBK BRI ditawarkan dalam empat pilihan tenor, yakni tenor 1 bulan dengan tingkat diskonto 4,5 persen, tenor 3 bulan dengan tingkat diskonto 4,60 persen, tenor 6 bulan dengan tingkat diskonto 4,85 persen, serta tenor 12 bulan dengan tingkat diskonto 4,95 persen. Instrumen ini dirancang tidak hanya sebagai alternatif pendanaan jangka pendek, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan instrumen pasar uang yang transparan, kredibel, dan berdaya saing.
Dalam sambutannya, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan bahwa penerbitan SBK BRI menjadi solusi pendanaan jangka pendek yang cepat dan efisien bagi Perseroan, sekaligus menawarkan alternatif investasi dengan imbal hasil yang kompetitif bagi investor. Dengan struktur yang fleksibel dan tata kelola yang kuat, SBK BRI diharapkan dapat memperkuat pengelolaan likuiditas secara prudent serta mendukung transmisi kebijakan dan pendalaman sistem keuangan nasional.
“Kami meyakini bahwa keberhasilan penerbitan SBK BRI ini menjadi langkah awal dalam memperkuat peran BRI dalam pengembangan instrumen pasar uang nasional. Ke depan, BRI akan terus mendorong inovasi produk, memperluas basis investor, serta memastikan seluruh inisiatif pembiayaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan tata kelola yang baik,” ujar Hery.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengapresiasi langkah BRI dalam menerbitkan SBK sebagai wujud konkret peran perbankan dalam mendorong pendalaman pasar uang. Menurutnya, BRI berperan sebagai pionir dalam penerbitan surat berharga komersial yang merupakan instrumen jangka pendek strategis untuk meningkatkan likuiditas pasar.
“OJK memandang peluncuran SBK BRI sebagai langkah strategis dalam memperkaya instrumen pasar uang nasional, meningkatkan fleksibilitas pengelolaan keuangan sektor perbankan, serta memperkuat peran instrumen pasar sebagai mekanisme disiplin pasar,” jelas Dian.
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa pendalaman pasar uang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas sektor keuangan di tengah ketidakpastian global. Kehadiran alternatif instrumen jangka pendek seperti SBK BRI dinilai tidak hanya memperkuat struktur pendanaan perbankan, tetapi juga memberikan pilihan investasi yang lebih beragam bagi investor.
“Bank Indonesia mengapresiasi peran BRI yang selama ini konsisten mendukung pengembangan pasar keuangan nasional. Upaya bersama dalam memperdalam pasar keuangan diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan,” ujar Destry.
Sebagai catatan, sejak tahun 2016 hingga 2025, BRI secara reguler telah menerbitkan surat utang dalam mata uang Rupiah dengan peringkat tertinggi dari Pefindo. Peringkat tersebut mencerminkan profil permodalan yang sangat kuat, kualitas aset yang terjaga, serta kemampuan BRI dalam memenuhi komitmen keuangan secara konsisten.