Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Dari Mengusa ke Inokulasi, Warga Metut Mulai Kembangkan Gaharu Modern

Fijai RT • Sabtu, 16 Mei 2026 | 04:27 WIB
PELATIHAN: Warga Desa Metut, Kecamatan Malinau Selatan Hulu, Malinau diberikan pelatihan pengembangan gaharu. FOTO: WARGA DESA METUT
PELATIHAN: Warga Desa Metut, Kecamatan Malinau Selatan Hulu, Malinau diberikan pelatihan pengembangan gaharu. FOTO: WARGA DESA METUT

TANJUNG SELOR - Setelah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari berburu gaharu di dalam hutan, warga Desa Metut, Kecamatan Malinau Selatan Hulu, Malinau kini diperkenalkan pada teknologi budidaya gaharu modern yang dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

 

Ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Gaharu Desa Metut, Lungo mengatakan, selama ini masyarakat masih mengandalkan aktivitas mengusa atau masuk hutan untuk mencari gaharu alami. Namun, keberadaan pohon gaharu kini semakin sulit ditemukan akibat tingginya aktivitas perburuan selama bertahun-tahun. “Untuk mendapatkan sedikit gaharu saja kami harus masuk jauh ke dalam hutan selama berminggu-minggu. Kadang biaya perjalanan lebih besar dibanding hasil yang kami bawa pulang,” kata Lungo kepada Radar Kaltara, Kamis (14/5).

 

Menurut Lungo, kondisi tersebut mendorong masyarakat mulai mencari alternatif baru melalui budidaya gaharu mandiri. Saat ini, ratusan pohon gaharu jenis lelah atau Aquilaria malaccensis telah tumbuh di lahannya dan sebagian sudah siap diinokulasi untuk menghasilkan resin gaharu bernilai ekonomi tinggi. “Pohon gaharu kami sekarang sudah cukup umur untuk disuntik. Tantangannya selama ini kami belum memahami cara membuat inokulan secara mandiri,” ungkapnya.

 

Hal senada disampaikan Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Metut, Ibung Kelit. Ia mengaku masyarakat sebelumnya masih menggunakan metode tradisional dengan melukai batang pohon menggunakan parang untuk memancing keluarnya resin gaharu. “Cara tradisional itu sering justru merusak kualitas kayu gaharu. Karena itu kami sangat terbantu dengan pelatihan teknologi inokulasi modern ini,” ungkapnya.

 

Kegiatan Pengmas ITB dipimpin langsung oleh dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Dr. Ir. Mustika Dewi. Program tersebut didukung Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) ITB bersama Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara, UPTD KPH Malinau, dan KKI Warsi. Dijelaskan, program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi lokal berbasis potensi desa. “Kami ingin masyarakat tidak hanya bergantung pada hasil hutan alam, tetapi mampu mengembangkan budidaya gaharu yang lebih produktif dan berkelanjutan,” jelasnya.


Fasilitator desa dari KKI Warsi, Tiarma Rezeki Manalu memastikan pendampingan kepada masyarakat tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Bersama penyuluh kehutanan, pihaknya akan melakukan pendampingan intensif sebagai tindak lanjut kegiatan. “Pasca pelatihan ini kami akan terus mendampingi masyarakat melalui uji coba pembuatan inokulan gaharu, biochar, pupuk organik, hingga pengolahan hasil perikanan,” ujarnya.

 

Menurut Tiarma, pendampingan tersebut bertujuan agar masyarakat mampu memenuhi kebutuhan inokulan gaharu secara mandiri bahkan berkembang menjadi peluang usaha baru bagi desa. “Kami berharap nantinya lahir kader-kader desa yang mampu menjadi penggerak dan berbagi pengetahuan kepada kelompok gaharu di desa lain,” jelasnya.

 

Kehadiran tim ITB di pedalaman Malinau dinilai bukan sekadar membawa teknologi, tetapi juga membuka harapan baru bagi masyarakat yang selama ini hidup dalam keterbatasan akses dan ketergantungan terhadap hasil hutan alam. “Budi daya gaharu berkelanjutan menjadi jalan tengah antara peningkatan ekonomi masyarakat dan upaya menjaga kelestarian hutan. Itu yang ingin terus kami dorong di Desa Metut,” pungkasnya. (jai/lim)

 

Editor : Azward Halim
#gaharu #kaltara #malinau