Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR Perkim) Malinau, Mei Desan mengatakan pengumpulan data tersebut dilakukan melalui alat pemantau tinggi muka air sungai atau automatic water level recorder (AWLR) serta alat pencatat curah hujan otomatis.
Menurutnya, dua alat pemantau tinggi muka air telah terpasang di Seluwing dan kawasan Pelabuhan Speedboat. Selain itu, satu unit alat pencatat curah hujan otomatis juga telah dipasang di Pulau Betung.
“Alat ini berfungsi mencatat ketinggian muka air sungai dan curah hujan secara otomatis. Data yang terkumpul nantinya akan menjadi bahan kajian dalam perencanaan penanganan banjir,” ujarnya.
Mei Desan menjelaskan, data dari alat pemantau tersebut akan dikumpulkan dan dianalisis bersama tim akademisi dari Universitas Gadjah Mada sebagai bagian dari penyusunan studi kelayakan penanganan banjir di wilayah Malinau Utara dan Malinau Kota.
Pengumpulan data ini diperkirakan berlangsung sekitar satu tahun agar diperoleh gambaran yang lebih akurat terkait pola curah hujan dan perubahan tinggi muka air sungai di wilayah tersebut.
“Untuk saat ini sistemnya memang belum terhubung dengan peringatan dini. Data yang ada masih kami olah bersama tim UGM dalam rangka penyusunan studi dan perencanaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, hasil kajian nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan detail engineering design (DED) penanganan banjir. Dari studi tersebut akan ditentukan bentuk penanganan yang paling tepat, seperti pembangunan tanggul, pintu air, sistem pompa, maupun infrastruktur pengendalian banjir lainnya.
Melalui pengumpulan data hidrologi ini, pemerintah daerah berharap dapat menyusun perencanaan penanganan banjir yang lebih tepat dan berbasis data, sehingga risiko banjir di kahupaten Malinau dapat diminimalkan di masa mendatang. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim