Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Penerbangan Terbatas, Calon Penumpang Tujuan Krayan Menumpuk di Bandara Malinau

Dip Ratar • Jumat, 19 Desember 2025 | 19:02 WIB
TERBATAS: Perwakilan masyarakat Krayan saat menemui otoritas Bandara Malinau. Penerbangan terbatas membuat banyak warga Krayan tertahan di Malinau.
TERBATAS: Perwakilan masyarakat Krayan saat menemui otoritas Bandara Malinau. Penerbangan terbatas membuat banyak warga Krayan tertahan di Malinau.

MALINAU - Lonjakan penumpang jelang Hari Raya Natal 2025 tidak diimbangi dengan ketersediaan jadwal penerbangan. Akibatnya, ratusan calon penumpang tujuan Krayan, Kabupaten Nunukan, terpaksa menumpuk dan mengantre panjang di Bandara Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Permintaan penerbangan rute Malinau-Krayan meningkat berkali lipat dibanding hari biasa. Namun, keterbatasan jadwal terbang yang hanya tersedia dua kali dalam sepekan membuat banyak warga gagal berangkat dan harus menunda perjalanan mudik.

Antrean panjang calon penumpang terlihat sejak beberapa hari terakhir. Kondisi ini diperparah dengan minimnya penerbangan perintis menuju Long Bawan, Kecamatan Krayan, yang menjadi satu-satunya akses udara bagi masyarakat di wilayah perbatasan tersebut.

Perwakilan warga Krayan, Henri Tetiawadi menjelaskan kendala utama terjadi akibat berkurangnya frekuensi penerbangan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kalau tahun 2024, penerbangan masih cukup membantu. Tapi tahun 2025 ini hanya ada dua kali penerbangan Malinau-Krayan setiap pekan. Sementara permintaan jelang Natal sangat tinggi,” ujarnya, Jumat (19/12).

Menurutnya, lebih dari 100 orang harus mengantre untuk memperebutkan kursi dari dua penerbangan tersebut. Dengan kondisi itu, hanya sekitar 10 persen calon penumpang yang dapat terakomodasi setiap minggunya.

Henri menambahkan, pada tahun lalu masyarakat sangat terbantu dengan adanya subsidi ongkos angkut (SOA) dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara. Namun, pada tahun 2025 program tersebut tidak lagi dialokasikan, sehingga berdampak langsung pada pengurangan jadwal penerbangan.

“Sekarang tinggal dua penerbangan perintis yang disubsidi APBN. Karena tidak ada lagi SOA dari Pemprov Kaltara, otomatis jadwal terbang berkurang. Ini bukan semata soal subsidi, tapi soal jumlah penerbangan,” jelasnya.

Keluhan serupa disampaikan warga Long Bawan lainnya, Martin. Ia mengungkapkan, hingga saat ini warga bahkan harus menerapkan sistem undian untuk mendapatkan jadwal terbang.

“Kami sangat menyayangkan kondisi ini. Tahun lalu bisa lebih banyak penerbangan, kenapa tahun ini tidak. Banyak warga yang akhirnya tidak bisa pulang kampung karena kehabisan tiket,” katanya.

Masyarakat Krayan berharap pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, dapat segera mencari solusi konkret atas persoalan tersebut. Mereka menegaskan, yang dibutuhkan bukan hanya subsidi, melainkan penambahan jadwal penerbangan demi menjamin akses transportasi warga perbatasan.

“Harapan kami pemerintah bisa melihat kondisi masyarakat di perbatasan. Kami sangat bergantung pada transportasi udara, apalagi menjelang hari besar keagamaan,” tambahnya. (*/dip/lim)

Editor : Azward Halim