MALINAU — Suasana Sungai Sesayap tampak meriah pada hari ke-16 pelaksanaan Festival Budaya Irau (FBI) ke-11 Kabupaten Malinau.
Ajang olahraga tradisional yang paling ditunggu masyarakat pesisir ini, yaitu Balap Ketinting, resmi digelar di perairan Sungai Sesayap RT 4, Lapangan Voly Bintang Mercy 02, Kecamatan Malinau Seberang.
Kegiatan ini adalah inisiasi dari Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Malinau dan dipercayakan untuk diselenggarakan oleh Komunitas Balap Ketinting Malinau (KBKM).
Ketua KBKM, Wawan Alfatian, menjelaskan bahwa perlombaan ini menjadi wadah bagi masyarakat nelayan dan pecinta mesin untuk menyalurkan keterampilan sekaligus hobi mereka.
"Acara ini merupakan kegiatan yang didukung penuh oleh KORMI Kabupaten Malinau, Bupati Malinau Wempi W.Mawa. Pembukaannya juga dihadiri langsung oleh Ketua KORMI," jelas Wawan.
Tahun ini, lomba diikuti oleh sekitar 120 peserta dari berbagai daerah yang terbagi dalam lima kategori, yakni nelayan standar 4 meter, nelayan lunas 6 meter 500cc, nelayan 4 meter tune up lokal, 3 meter tune up underbone 230cc open, dan 500cc tune up piston tunggal open.
Sekitar 50 peserta berasal dari luar Kabupaten Malinau, terutama pada kategori open.
"Yang paling banyak pesertanya itu dari kategori nelayan 4 meter standar, karena perahu mereka memang digunakan sehari-hari untuk mencari ikan," ujar Wawan.
Perlombaan ini digelar selama dua hari, yakni 21–22 Oktober 2025.
“Biasanya tiga hari, tapi kali ini waktu yang diberikan panitia hanya dua hari. Jadi besok sudah final dan penutupan,” tambahnya.
Penutupan rencananya akan dihadiri oleh Ketua KORMI Kabupaten Malinau yaitu Bupati Malinau, Wempi W. Mawa.
Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp 60.300.000. Namun, lebih dari sekadar memperebutkan hadiah, ajang ini menjadi sarana positif bagi masyarakat pesisir untuk mengembangkan keahlian di bidang mesin.
"Dengan adanya lomba ini, banyak anak muda jadi paham teknik mesin. Kalau dulu rusak sedikit harus ke bengkel, sekarang mereka bisa perbaiki sendiri," tutur Wawan.
Selain itu, balap ketinting juga membawa dampak sosial dan ekonomi yang positif bagi warga sekitar.
"Dulu banyak anak muda di sini yang nakal, bahkan terjerat narkoba dan kriminal. Sekarang mereka tersalurkan ke hal positif lewat kegiatan ini. Istri-istri mereka ikut berjualan, terlibat di panitia, dan ekonomi di RT kami ikut bergerak," ujarnya.
Ia berharap kegiatan seperti ini terus mendapat dukungan dari pemerintah dan masyarakat.
"Inilah acara yang paling ditunggu oleh para nelayan. Selain hiburan, ini juga ajang kebersamaan dan peningkatan ekonomi masyarakat di pesisir sungai," pungkasnya. (*dip)
Editor : Azwar Halim