MALINAU – Pemerintah Kabupaten Malinau menegaskan batik dan rotan sebagai industri unggulan daerah dalam Rencana Pembangunan Industri Kabupaten (RPIK) Malinau 2024–2044. Penetapan itu tercantum dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 13 Tahun 2024.
RPIK Malinau menekankan bahwa batik dan rotan bukan hanya produk bernilai ekonomi, tetapi juga warisan budaya lokal yang memperkuat identitas masyarakat.
Pengembangan kedua sektor ini dinilai sebagai bukti bahwa industri bisa tumbuh dari akar budaya sendiri, sekaligus membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM dan IKM di daerah.
Plh Sekda Malinau sekaligus Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Malinau, Jhon Ifung menegaskan, Perda ini menjadi tonggak penting dalam arah pembangunan industri daerah.
"Peraturan daerah ini merupakan tongkat penting dalam membangun sektor industri di daerah kita. Dokumen ini disusun berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian dan pendorongan teknis dari kementerian. Visi besar yang ingin kita capai adalah terwujudnya industri daerah yang mandiri, berdaya saing, maju, dan berwawasan lingkungan," jelasnya.
Ia menambahkan, visi tersebut diturunkan ke dalam tujuan dan sasaran mulai dari peningkatan kontribusi industri terhadap PDRB, perluasan lapangan kerja, peningkatan investasi, hingga ekspor produk industri. Perda ini juga merinci target capaian per lima tahunan dari 2024 hingga 2044.
"Tak kalah penting adalah upaya menjaga kelestarian lingkungan dan pengolahan limbah sebagai bagian dari pembangunan industri berkelanjutan. Perda ini juga menekankan pentingnya keberlanjutan dan keadilan agar manfaat industri bisa dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat, khususnya di sekitar kawasan industri," ujarnya.
Selain batik dan rotan, RPIK juga memasukkan sawit, pengolahan hasil pertanian, perikanan, hasil hutan lain, serta pariwisata sebagai industri unggulan.
Namun, pemerintah memberi perhatian khusus pada pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan batik, anyaman, hingga pengolahan produk turunan, yang sejak 2022 telah melahirkan ratusan unit usaha baru.
Dengan langkah ini, Malinau diharapkan mampu membangun identitas ekonomi yang tidak hanya bertumpu pada tambang, tetapi juga pada kekuatan budaya, kreativitas, dan kearifan lokal masyarakatnya. (*dip)
Editor : Azwar Halim