MALINAU – Permasalahan jaringan telekomunikasi di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T) di wilayah Kabupaten Malinau masih menjadi tantangan besar hingga kini.
Di era digital, ketersediaan jaringan menjadi kebutuhan penting, dan keterbatasannya dapat menghambat akses informasi serta menurunkan kualitas layanan publik bagi jutaan warga 3T di Malinau.
Menanggapi hal ini, Pemerintah Kabupaten Malinau memperluas akses internet ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), tahun ini Pemkab Malinau mengalokasikan pemasangan layanan internet satelit Starlink untuk 11 kecamatan di luar wilayah perkotaan, serta mengoperasikan Wifi Ubiquiti untuk fasilitas pendidikan di pedalaman 3T.
Kadiskominfo Malinau, Francis, menyampaikan bahwa program Starlink tersebut kini dalam tahap proses pengadaan.
"Harapannya, jaringan internet di daerah yang sulit dijangkau dapat lebih stabil dan cepat," ujarnya.
Selain itu, Francis juga menyampaikan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) juga telah memfasilitasi 78 desa untuk mendapatkan akses internet Starlink melalui dana desa.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan layanan publik, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan.
Diskominfo juga menyalurkan layanan Wifi Ubiquiti untuk 48 sekolah di wilayah pedalaman. Program ini bertujuan membantu proses belajar mengajar yang selama ini terkendala minimnya jaringan internet.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat banyak kendala terkait keterbatasan kuota pengguna atau bandwidth.
"Kalau hanya untuk urusan dinas, bandwidth cukup. Tapi kalau digunakan seperti di kota, pasti cepat habis. Kalau kuota habis, layanan internet akan kosong lagi, kecuali diisi secara mandiri," jelasnya.
Dengan langkah ini, Pemkab Malinau berharap masyarakat di daerah pedesaan dan perbatasan dapat menikmati layanan internet yang lebih memadai, meskipun tantangan teknis dan keterbatasan anggaran masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. (*dip)
Editor : Azwar Halim