TANJUNG SELOR - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga stabilitas kebutuhan bahan pokok (bapok) masyarakat di tengah kenaikan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM).
Hal itu disampaikan langsung oleh Sekretaris Provinsi (Sekprov) Kaltara, Denny Harianto kepada Radar Tarakan saat ditemui di Tanjung Selor, Rabu (13/5).
"Setiap Senin kita ada rapat tim inflasi yang dimonitor langsung oleh teman-teman dari pusat. Senin kemarin ada beberapa hal yang menjadi penekanan-penekanan," ujar Sekprov Denny.
Terhadap hal ini, pihaknya tetap akan terus menjaga stabilitas harga dari produk yang berkaitan dengan pemanfaatan BBM. "Kita lihat dampaknya seperti apa, itu yang akan kita tindaklanjuti," tuturnya.
Tapi untuk di Kaltara, Sekprov Denny menyampaikan bahwa belum ada dapat laporan terkait dengan dampak dari kenaikan harga BBM tersebut.
Ia mengatakan yang sempat berdampak itu soal kenaikan harga plastik beberapa waktu lalu. Di beberapa tempat meminimalkan penggunaan gelas plastik dengan meminta konsumen membawa tumbler sendiri tempat air mineral.
"Ini mempengaruhi, sampai ada alternatif mungkin bisa pakai daun pisang dan lainnya sebagai pengganti penggunaan plastik. Itu yang terjadi di Jawa," katanya.
Disinggung soal harga jual Elpiji 3 kilogram yang di beberapa daerah ada sampai Rp 50 ribu per tabung, Sekprov Denny menegaskan bahwa terkait hal ini sudah ada harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan. "Jadi tidak boleh keluar dari itu. Karena kalau keluar dari itu, ada konsekuensi tersendiri," tegasnya. (iwk/lim)
Editor : Azward Halim