TANJUNG SELOR - Pemkab Bulungan menegaskan bahwa sistem work from home (WFH) bukan sekadar perubahan lokasi kerja, melainkan transformasi menyeluruh dalam pola pikir, budaya kerja, dan tanggung jawab aparatur sipil negara (ASN). Penegasan ini disampaikan sebagai upaya menjaga kualitas pelayanan publik tetap optimal di tengah dinamika sistem kerja modern.
Asisten I Setkab Bulungan, Jamal menegaskan, keberhasilan WFH sangat ditentukan oleh integritas dan kedisiplinan ASN. “WFH bukan hanya soal bekerja dari rumah, tetapi perubahan pola pikir, budaya kerja, serta tanggung jawab individu dalam menjalankan tugas pemerintahan dan pelayanan publik,” kata Jamal kepada Radar Kaltara, Jumat (1/5).
Ia menambahkan, ASN dituntut tetap profesional meskipun tidak bekerja di kantor. “Keberhasilan WFH ditentukan oleh integritas, kedisiplinan, komitmen, serta kemampuan ASN untuk tetap memberikan pelayanan terbaik tanpa menurunkan kualitas kinerja,” tegasnya.
Dalam mendukung efektivitas kerja, Jamal juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital. Menurutnya, teknologi menjadi kunci dalam menjaga koordinasi dan pengawasan tetap berjalan.
“Pemanfaatan teknologi digital harus optimal agar komunikasi, koordinasi, dan pengawasan kerja tetap efektif sehingga tujuan organisasi dapat tercapai,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala BPSDM Kemendagri, Dr. Sugeng Hariyono menyebut WFH sebagai tantangan yang harus dijawab dengan manajemen kerja yang baik. “WFH bukan hambatan untuk tetap produktif, melainkan tantangan yang harus dihadapi dengan pengelolaan kerja yang tepat,” katanya.
Ia menegaskan bahwa disiplin diri menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan WFH. “Kemampuan mengatur waktu, menetapkan target harian, menjaga fokus kerja, hingga membangun komunikasi efektif dengan pimpinan dan rekan kerja menjadi kunci utama,” ujarnya.
Sugeng juga menekankan pentingnya keseimbangan antara fleksibilitas dan akuntabilitas dalam sistem kerja jarak jauh. “Fleksibilitas harus dibarengi dengan tanggung jawab terhadap hasil kerja yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. ASN harus beradaptasi dengan sistem kerja berbasis output, bukan sekadar kehadiran,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang kondusif di rumah agar produktivitas tetap terjaga. “Ruang kerja yang nyaman akan membantu menjaga konsentrasi dan profesionalisme dalam bekerja,” jelasnya.
Tak hanya itu, aspek kesehatan mental juga menjadi perhatian dalam penerapan WFH. Sugeng menilai produktivitas ASN tidak hanya dipengaruhi kemampuan teknis, tetapi juga kondisi psikologis. “Kesehatan mental dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan sangat penting untuk menjaga produktivitas,” ungkapnya.
Ia menambahkan, komunikasi terbuka, dukungan keluarga, serta budaya kerja yang sehat menjadi faktor penting dalam menciptakan sistem WFH yang efektif dan berkelanjutan. “WFH yang berhasil adalah yang mampu menjaga keseimbangan antara kinerja dan kondisi individu,” pungkasnya. (jai/lim)
Editor : Azward Halim