Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Jalan Alternatif Dipenuhi Debu

Azwar Halim • Kamis, 4 Februari 2021 | 14:11 WIB
jalan-alternatif-dipenuhi-debu
jalan-alternatif-dipenuhi-debu

TANJUNG SELOR – Jembatan Jelarai yang menghubungkan Kabupaten Bulungan dengan Kabupaten Malinau, Berau dan Tana Tidung (KTT) telah resmi ditutup pada Rabu (3/2) sekira pukul 10.00 WITA. Itu dilakukan lantaran oprit jembatan menuju arah Tanjung Selor mengalami kerusakan sepanjang 60 meter. Sehingga, pengalihan arus lalu lintas dialihkan melalui Jembatan Meranti.


Radar Kaltara berkesempatan melalui jalan alternatif sepanjang 3,3 kilometer dari Jembatan Meranti hingga di ruas Jalan SP3, Tanjung Selor. Aktivitas jalan dipadati beragam jenis kendaraan. Mulai dari dump truk hingga roda dua (R2). Saat melintas di jalan agregat itu kondisi cuaca begitu cerah. Sehingga, sepanjang jalan dipenuhi dengan debu. Dan debu akan semakin bertebar usai dilintasi kendaraan.


Mirisnya, pengendara R2 buat kesulitan lantaran debu yang menyelimuti. Tak hanya itu, pengendara R2 lebih memilih memacu kendaraan dengan cepat dari rambu yang telah terpasang di bibir jalan. Kemudian di setiap titik personel Ditlantas Polda Kaltara melakukan penjagaan. Di titik menuju bahu Jalan SP 3 tak jauh dari PLTU sejumlah personel polisi melakukan pengaturan kendaraan.


Sementara Jalan Manggis telah ditutup untuk jalan satu arah. Kemudian, untuk kendaraan ukuran besar seperti dump truk berdasarkan rambu yang terpasang harus melalui Jalan Kolonel Soetadji dan tidak diperkenangkan melintasi Jalan Agatis.


Seperti yang disampaikan Boy, usai melintas melalui jalan alternatif. Ia meminta agar pemerintah memperhatikan kondisi badan jalan. Sebab, saat cuaca cerah jalan akan berdebu. Kemudian saat, hujan jalan akan becek.


Tak hanya itu, ia juga berharap agar penerangan jalan umum (PJU) dapat dihadirkan. Dikarenakan, ketika malam hari sepanjang jalan tanpa PJU. “Debu yang menjadi masalah. Kalau untuk rambu sudah bagus. Cuman, kalau malam tidak terlihat. Karena tidak ada lampu yang terpasang. Untuk siang sudah membantu,” singkatnya.


Sementara, Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Kaltara, Kombes Pol Raden Romdhon Natakusuma menjelaskan, setelah Jembatan Jelarai ditutup sebanyak 40 personel dikerahkan untuk melakukan penjagaan di empat titik jalur alternatif mulai pukul 6.00 WITA hingga 22.00 WITA.


Kemudian, bagi pengendara yang melalui jalur alternatif dapat menaati rambu-rambu yang telah terpasang. Mulai dari laju kendaraan maksimal 30 kilometer per jam. Alasannya, jalan gelap ketika malam hari karena tidak memiliki PJU.


“Karena kondisi siang hari ketika panas terik jalan berdebu, kita tidak ingin karena debu mengakibatkan laka lantas. Di mana, pengendara roda empat (R4) yang berdampak pada pengendara roda dua (R2),” jelasnya.


Sementara, Kepala Satker PJN Wilayah I Kaltara, Andi Nugroho Jati bercerita rencana perbaikan pada oprit jembatan akan dilakukan dengan segera. Targetnya, pengerjaan rampung sebelum menyambut Idul Fitri pada Mei mendatang.


“Hasil diskusi tidak dimungkinkan saat pengerjaan pengendara dapat menggunakan separuh badan jembatan. Kondisi ini sangat berbahaya. Yang kita pegang pertama faktor safety dari masyarakat dan safety dari segi pekerjaan. Jangan sampai kita lakukan pekerjaan ada hal yang tidak diinginkan terjadi,” jelasnya. (akz/eza)

Editor : Azwar Halim