Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Perjalanan Linda Sasmitra, dari Aspal Tarakan ke Tokyo Marathon 2026

Nur Rahman • Selasa, 3 Maret 2026 | 11:32 WIB

Tokyo Marathon 2026 sudah berlangsung, Ahad (1/3) lalu. Di antara 39 ribu pelari dari seluruh penjuru dunia, terselip satu cerita pelari asal Tarakan, Kalimantan Utara. 

TUNTAS DI JEPANG: Linda Sasmitra saat menyelesaikan 42 kilometer di Tokyo Marathon 2026, Ahad (1/3) lalu.
TUNTAS DI JEPANG: Linda Sasmitra saat menyelesaikan 42 kilometer di Tokyo Marathon 2026, Ahad (1/3) lalu.

 

JEMARI Linda Sasmitra tak berhenti menggulir layar ponselnya pada Jumat pagi, 19 September 2025 lalu. Bersama beberapa rekan pelari, dia menanti hasil ballout untuk kesertaannya dalam Tokyo Marathon 2026. Event lari yang merupakan satu dari tujuh World Marathon Majors (WMM).

Keberuntungan berpihak, nama Linda terpilih. Satu-satunya dari Kalimantan Utara. Satu dari 150 pelari asal Indonesia yang berpartisipasi dalam event tersebut. Setidaknya begitu data yang dilaporkan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jepang.

“Setahu saya tidak ada lagi yang dari Kaltara. Dari Indonesia, saya ada tahu beberapa public figure, seperti Angga Yunanda, Jerome Polin, dan Dokter Tirta,” ucap ibu tiga anak ini.

Sebagai pelari rekreasional, Linda menegaskan kalau event lari tentu bukan ajang memburu podium. Baik untuk event marathon berskala nasional, apalagi internasional.

Tapi, bukan berarti bisa dilewati begitu saja tanpa persiapan. Apalagi, Tokyo Marathon 2026 jadi Virgin Full Marathon (VFM) atau untuknya.

“Kalau HM (half marathon), sudah pernah ikut di Pocari Sweat Run Bandung 2025, dan puji tuhan personal best untuk HM dapat di Jakim (Jakarta International Marathon), itu dengan catatan waktu1 jam 59 menit,” kata Linda.

Persiapan dia mulai lima bulan sebelum race day. Dibantu pelatih, ditemani sesama pelari dari komunitas, hampir setiap hari Linda melahap kilometer demi kilometer aspal kota Tarakan. Pengalaman para pelari senior juga jadi rujukan untuk mempersiapkan performa terbaiknya.

“Di komunitas kebetulan ada beberapa senior yang sudah pernah full marathon, jadi ikut sharing juga. Karena pasti beda strateginya dengan yang half marathon,” ujarnya.

 

 

 

 

 

Linda menyebut, beban latihan dari pelatih naik bertahap, sampai puncaknya pada tiga minggu menjelang race. Strength training, easy run, interval, tempo, sampai long run dilahapnya. Tapi memang belum sampai bertemu kilometer 42, karena dia mau angka itu didapatnya di Tokyo.

“Makan juga harus diatur. Misalnya, sebelum long run, harus carbo loading. Yang lumayan berat itu mengatur istirahat. Karena kalau habis long run kadang butuh istirahat, tapi harus kerja atau ngurus anak. Kadang ada jenuhnya juga,” tutur perempuan 35 tahun ini.

Persiapan lain yang juga tak kalah penting, kata Linda, adalah perlengkapan lari. Meski mengedepankan fungsi dan performa, dia mengakui kalau perlengkapan yang bagus juga berpengaruh ke mental.

“Yang pasti harus nyaman. Dan kalau gear-nya kita suka, juga jadi motivasi. Semacam mental booster jadinya,” katanya.

Linda berangkat dari Tarakan tiga hari sebelum race, atau pada 26 Februari lalu. Tiba di Bandara Haneda esok paginya, dia langsung menuju Tokyo Big Sight untuk race pack collection.

Sehari sebelum race harusnya aku ikut shake out run sama Pocari Sweat. Sudah daftar, tapi nggak sempat datang. Jadi jersey-nya malah dikirim ke Tarakan, hehehe,” kata Linda.

Hari puncak pun tiba. Linda menempuh rute marathon pertama dalam hidupnya. Melewati Gedung-gedung tinggi dan tempat ikonik di Tokyo. Merasakan berlari dengan nyaman di atas kota yang tertata sangat rapi. Suhu dingin turut membantu terjaganya stamina Linda, yang sudah terbiasa berlari dengan panasnya cuaca di Tarakan.

“Suhu dingin itu membantu banget. Kemarin di 10 sampai 15 celcius. Sepanjang jalan juga banyak penonton, jadi semangat. Sepanjang lari merinding karena excited, soalnya ini pengalaman pertama,” sebutnya.

 

 

 

 

 

 

Menurut Linda, ada beberapa perbedaan antara event marathon di Tokyo dengan Indonesia. Pertama, dari sisi rute. Di Indonesia, top national event rata-rata menyajikan kombinasi antara rute datar dan elevasi. Sementara di Tokyo, hampir seluruhnya datar.

“Tapi kalau soal cheering, event di Indonesia itu lebih meriah dan atraktif. Yang sudah ikut beberapa event WMM juga bilang begitu. Kekeluargaannya lebih dapat, karena banyak komunitas dari berbagai daerah kan,” ujar Linda.

“Official time lebih lama, karena di Tokyo Marathon jaraknya lebih dari 42,195 kilometer (jarak resmi marathon),” pungkas Linda. (man)

 

Editor : Nur Rahman
#kalimantan utara #pelari #tarakan #kaltara #Kaltara Begimpor #marathon #runner #Tokyo Marathon 2026