TARAKAN – Fenomena gerhana bulan akan menghiasi langit Indonesia sore hari ini, Selasa (3/3) hingga malam hari. Meski seluruh wilayah Tanah Air berkesempatan menyaksikan setiap fasenya, peluang melihat gerhana bulan total di Tarakan disebut tidak sebesar di wilayah Indonesia bagian barat.
Forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan, Ida Bagus Gede Yamuna menjelaskan, berdasarkan data BMKG Pusat, fenomena gerhana kali ini mencakup fase gerhana bulan total dan gerhana bulan sebagian yang dapat diamati di Indonesia.
“Secara nasional memang terjadi gerhana bulan total dan juga gerhana bulan sebagian. Seluruh wilayah Indonesia mengalami semua fase. Namun untuk Indonesia Barat, peluang menyaksikan gerhana bulan total cenderung lebih tinggi,” ujarnya, Selasa (3/4).
Sementara itu, untuk wilayah Kalimantan, khususnya Tarakan, masyarakat tetap memiliki peluang melihat fase total. Hanya saja, kemungkinan terbesar yang dapat diamati adalah gerhana bulan sebagian.
“Di Tarakan ada potensi melihat gerhana bulan total, tetapi peluangnya tidak sebesar di wilayah Barat. Jadi kemungkinan kita lebih besar menyaksikan gerhana bulan sebagian,” jelasnya.
BMKG mencatat fenomena gerhana mulai dapat disaksikan pukul 16.40 WIB dan berakhir sekitar pukul 22.24 WIB. Puncak gerhana diperkirakan terjadi sekitar pukul 19.33 WIB.
Rentang waktu tersebut menjadi momen terbaik bagi masyarakat yang ingin melakukan pengamatan, tentunya dengan catatan kondisi cuaca cerah dan tidak tertutup awan tebal.
Ida Bagus menegaskan, berbeda dengan gerhana matahari, gerhana bulan aman disaksikan secara langsung tanpa alat pelindung khusus. “Karena cahaya bulan tidak sekuat matahari, maka gerhana bulan aman dilihat dengan mata telanjang,” tegasnya.
Warna Bulan Berubah Kemerahan
Secara kasatmata, perbedaan antara gerhana bulan total dan sebagian cukup mudah dikenali dari perubahan warna bulan. Saat terjadi gerhana bulan total, seluruh permukaan bulan akan tertutup bayang-bayang bumi dan tampak berwarna merah gelap. Fenomena ini kerap disebut sebagai “blood moon” atau bulan darah.
“Kalau gerhana bulan total, seluruh permukaan bulan cenderung berwarna merah kegelapan,” katanya.
Sedangkan pada gerhana bulan sebagian, hanya sebagian permukaan bulan yang masuk ke dalam bayang-bayang bumi. Akibatnya, bagian tersebut akan tampak kemerahan, sementara sisi lainnya tetap terlihat terang atau putih. “Jadi ada bagian yang merah dan ada juga bagian yang masih putih,” tambahnya.
Ia menerangkan, gerhana bulan terjadi ketika posisi matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus. Pada gerhana bulan total, bulan sepenuhnya berada di wilayah bayang-bayang bumi sehingga tidak menerima cahaya matahari secara langsung.
Akibatnya, cahaya yang sampai ke bulan hanyalah pantulan cahaya matahari yang dibiaskan atmosfer bumi, sehingga bulan tampak berwarna merah gelap dari permukaan bumi.
Sementara pada gerhana bulan sebagian, hanya sebagian wilayah bulan yang masuk ke dalam bayang-bayang bumi. Sisanya masih menerima cahaya matahari sehingga tetap terlihat terang.
Dengan adanya fenomena ini, masyarakat Tarakan diimbau memanfaatkan momen langka tersebut sebagai sarana edukasi dan pengamatan astronomi. BMKG juga mengingatkan agar warga tetap memperhatikan kondisi cuaca sebelum melakukan pengamatan di ruang terbuka. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT