TARAKAN – Meski menjadi kota terkaya ke-17 di tahun 2024 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), namun hal tersebut tidak menjamin Kota Tarakan terbebas dari ancaman stunting yang identik dengan kemiskinan. Meski terus mengalami penurunan presentase setiap tahunnya namun presentase stunting di Tarakan dinilai masih fluktuatif.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, dr. Devi Ika Indriati M.Kes menerangkan, prevalensi stunting di Tarakan saat ini tercatat di angka 4,58 persen. Presentase ini diambil dari jumlah anak dibawah usia 2 tahun di Kota Tarakan.
Diketahui, Berdasarkan data dari sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPBGM) angka stunting terus menunjukkan penurunan setiap tahunnya. Seperti laporan di tahun 2022 sebesar 15,4 persen, kemudian di tahun 2023, mengalami penurunan 14,8 persen, kemudian di tahun 2024 kembali turun menjadi 12,6 persen.
"Ini hasil dari pemeriksaan anak baduta (balita dibawah dia tahun) atau anak di bawah usia dua tahun, bukan dari jumlah penduduk secara keseluruhan. Angka stunting ini dihitung dari anak baduta yang diperiksa. Jadi bukan dari total penduduk, melainkan dari hasil pengukuran tinggi badan anak sesuai dengan usianya,” ujarnya, Selasa (16/12).
"Penentuan stunting dilakukan dengan membandingkan tinggi badan anak dengan usia yang bersangkutan. Apabila tinggi badan tidak sesuai dengan umur, maka anak tersebut dikategorikan mengalami stunting. Setiap temuan stunting yang tercatat dalam sistem EPPBGM langsung ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Tarakan. Data yang bersifat by name dan by address memudahkan petugas kesehatan untuk melakukan pelacakan serta verifikasi ulang di lapangan," sambungnya.
Diungkapkannya, sejauh ini pihaknya terus berupaya melakukan intervensi stunting melalui pemberian makanan tambahan (PMT) maupun posyandu. Selain itu, pihaknya juga gencar melakukan sosialisasi kepada ibu hamil guna mencegah stunting pada bayi yang akan lahir. Diungkapkannya, pencegahan terbaik adalah dilakukan saat bayi masih dalam usia 0 bulan alias masih di dalam kandungan melalui makanan bergizi yang dikonsumsi ibu yang mengandung.
"Intervensi dilakukan dengan berbagai upaya seperti PMT berbasis pangan lokal, serta pemantauan dan evaluasi terhadap pola makan dan asupan gizi anak secara berkala melalui posyandu. Pencegahan yang paling tepat pada ibu mengandung, kita berikan edukasi supaya menjaga pola makan sehat," terangnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT