Saat dikonfirmasi, salah satu warga Toraja Petrus Sampe yang melaksanakan ma'nene menerangkan, seperti pada umumnya kegiatan ma'nene dilakukan setiap perayaan Paskah. Kendati begitu, ia menerangkan tradisi ma'nene di masa modern dan dahulu telah mengalami perbedaan. Diterangkannya jika dulu tradisi ma'nene dapat membuat jasad bangun dan berjalan secara sendiri, kini rangkaian itu tidak dapat dilakukan lagi.
“Seperti biasa saat hari besar kami sekeluarga berziarah ke makam keluarga untuk mendoakan sekaligus melihat jasad keluarga kami dan membersihkan kuburan keluarga kami. Itu kami lakukan setiap Paskah,” ujarnya.
“Kalau petinya sudah rusak maka kami ganti. Kami keluarkan jasadnya dibersihkan dan dimasukkan ke peti yang baru. Kalau dari tradisi kami orang bilang ma'nene. Ma'nene ini semacam berziarahlah termasuk mengganti pakaian dan peti (kalau diperlukan). Misalnya kalau petinya rusak diganti kalau tidak dibungkus memang begitu dia adat istiadat nenek moyang kami,” lanjutnya.
Dijelaskannya, meski mengalami perbedaan karena pergeseran zaman, namun menurutnya hal tersebut tidak mengurangi makna dari pelaksanaan tradisi ma'nene itu sendiri. “Kadang-kadang juga mayatnya dikeluarkan untuk dikeringkan. Setelah kering dimasukkan kembali. Prosesnya sebelum dibuka kami potong babi. Tapi potongnya bukan di sekitar sini, kami potong di tempat lain,” tuturnya.
“Kalau dulu itu untuk persembahan, kalau sekarang tidak dimaknai apa-apa karena sekarang kan kami sudah memiliki keyakinan agama. Kalau dulu belum ada agama,” terangnya.
Adapun bangunan yang menjadi rumah bagi jasad disebut patane. Dijelaskannya, pembangunan patane sedikitnya menghabiskan biaya dengan kisaran Rp 100 juta. Kendati demikian, hal itu tidak menjadi penghalang bagi warga Toraja dalam mempertahankan budayanya.
“Rumah (kuburan) ini namanya patane. Itu bisa diisi satu keluarga jadi beberapa generasi jasadnya bisa di dalam patane ini. Kalau kita sendiri tidak mampu, jadi kami patungan untuk membuat patane ini. Kalau 1 patane ini menghabiskan dana minim seratus juta karena buatnya sama seperti bangun rumah walaupun ukurannya kecil,” tukasnya.
Sementara itu, pemakanan Kristiani Juata Laut terpantau terdapat banyak patane berwarna-warni sehingga hal tersebut membuat pemakaman tersebut cukup unik. Hingga saat ini warga Toraja Kelurahan Juata Laut dan seterusnya tetap akan melestarikan budaya ma'nene dalam merawat tradisi masa lampau. (*/zac/lim)
Editor : Azwar Halim