Pastor Paroki pada Gereja Paroki Santa Maria Imakulata Tarakan, Romo Antonius Andri Atmaka OMI menerangkan, adapun rangkaian pelaksanaan Paskah yakni pelaksanaan Kamis Putih, Jumat Agung dan selanjutnya pelaksanaan Minggu Palma. Adapun pelaku tablo melibatkan pemuda gereja yang merupakan mahasiswa dan pelajar.
“Umat Katolik di seluruh dunia itu merayakan puncak masa pantan dan puasa dengan pekan suci. Pekan suci itu dimulai dari Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan kemudian Paskah. Hari ini (kemarin, Red) kami merayakan Jumat Agung. Jumat Agung itu saat di mana Yesus wafat disalib. Menurut budaya zaman Yesus 2 ribu tahun yang lalu,” terangnya, Jumat (15/4).
“Kemudian gereja Paroki Santa Maria Imakulata Tarakan, anak-anak muda membuat semacam drama yang kami sebut sebagai tablo. Tablo ini merupakan drama tanpa kata-kata sebetulnya. Tapi di-dubbing dan itu mau memperagakan peristiwa penyaliban Yesus,” sambungnya.
Dijelaskannya, dalam rangkaian ibadah Paskah dilakukan selama 3 hari dan puncaknya akan dilakukan Minggu Palma. “Kamis Putih, mengenang perjamuan yang dibuat Yesus, itu kami mengadakan perjamuan jam 5 yang pertama, dan yang kedua jam 9 malam. Lalu hari ini Jumat Agung, ibadah pertama jam 12 dan jam 4 sore,” tuturnya.
“Terus malam Paskah, itu jam 5 sore dan jam 9 malam. Minggu perayaannya, itu jam 7 pagi dan jam 10 siang. Saya sendirian, makin padat rasanya. Untuk keamanan kami senang karena diperhatikan oleh Polsek Tarakan Barat dan Polres Tarakan. Mereka mengirimkan personelnya membantu kelancaran lalu lintas. Karena kebetulan gereja kami ada di jalan protocol, jadi ramai terus,” lanjutnya.
Kendati demikian, dalam proses ibadah pihaknya tetap menerapkan protokol kesehatan dengan membatasi jumlah jemaat yakni 75 persen dari kapasitas gereja. “Kami masih menerapkan PPKM level 2 yah yakni 75 persen. Jadi di dalam gereja yang mestinya bisa dipakai 5-6 orang hanya dipakai 3 orang. Rata-rata yah seribuan orang tiap ibadah,” tukasnya.
Dijelaskannya, perayaan Paskah sebagai refleksi umat Katolik dalam merefleksikan dan mengenang Yesus Kristus yang mengorbankan dirinya dalam menebus dosa umat manusia. Sehingga menurutnya, perayaan Paskah dapat menjadi pelajaran penting manusia dalam mengasihi sesamanya. “Paskah itu dirayakan dengan menyembelih domba. Karena mereka, merayakan pembebasan dari Mesir. Nah, zaman Yesus, Yesus ini membuat dirinya menjadi dalam tanda kutif domba tadi. Penyaliban Yesus itu dijadikan sebagai pengorbanan untuk menebus manusia dari dosa,” jelasnya.
“Kalau dulu zaman Musa, manusia dibebaskan perbudakan Mesir zaman Yesus di hari Jumat Agung itu manusia dibebaskan dari dosa. Karena menurut pandangan waktu itu, dosa itu merupakan utang. Maka Yesus menebus dosa-dosa manusia seberapa pun besarnya dosa itu. Cara ia menebusnya dengan mengorbankan diri,” ucapnya.
“Peristiwa disalibnya Yesus pada Jumat Agung, adalah sebuah ungkapan cinta seorang sahabat yang mencintai dengan total. Itu dipandang menjadi sebuah penebusan dosa,” jelasnya. (*/zac/lim)
Editor : Azwar Halim