Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Masjid Darussalam, Tertua di Karang Anyar

Azwar Halim • Sabtu, 18 Mei 2019 | 10:01 WIB
masjid-darussalam-tertua-di-karang-anyar
masjid-darussalam-tertua-di-karang-anyar

Bagi warga yang biasa melintas di Jalan Seroja, Kelurahan Karang Anyar, mungkin masjid ini tidaklah asing. Masjid yang letaknya tepat di pinggir jalan ini, sangat muda ditemui. Masjid Darussalam, masjid yang konon merupakan masjid tertua di Kelurahan Karang Anyar, Tarakan Barat mencatat sejarah panjang.


 


AGUS DIAN ZAKARIA


 


LUASNYA tak seberapa, hanya sekira 15 x 20 meter. Berlantai 2. Didirikan pada tahun 1947. Dulunya hanya sebuah surau atau yang lebih dikenal dengan istilah langgar.


Moh. Yusuf Mardi, pengurus masjid mengungkap lahan tempat berdirinya masjid. Tanah wakaf seorang warga setempat. Meski demikian, masjid ini baru diresmikan tahun 1977. "Memang di Karang Anyar ini dulu belum ada masjid. Jadi ini dulu sudah 30 tahun difungsikan baru diubah menjadi masjid tahun 1977 dan saat itu belum ada satu pun masjid di Kelurahan Karang Anyar," ujar Yusuf, kemarin (17/5).


Nama Darussalam sendiri, merupakan nama seorang tokoh warga setempat yang berperan besar dalam mengurus tanah tempat berdirinya masjid tersebut. Meski bukanlah seorang yang mewakafkan tanahnya, tokoh tersebut dianggap berperan besar pada proses pembangunan masjid.


"Kenapa namanya Masjid Darussalam, karena dulu yang mengurus wakaf tanah ini namanya Bapak Salam. Sehingga nama masjid ini Darussalam yang artinya keselamatan. Supaya orang yang beribadah di masjid ini senantiasa diberi keselamatan dunia dan akhirat," jelasnya.


Berdiri pasca invasi tentara Jepang, kawasan masjid ini memang dari dulu dikenal padat penduduk. "Di sini merupakan pusat ibadah masyarakat Tarakan Barat khususnya Karang Anyar. Banyak yang meyakini masjid ini merupakan masjid tertua di Tarakan Barat karena di tahun itu kawasan ini masih satu-satunya kawasan permukiman padat," tuturnya.


Sementara itu, salah seorang warga tertua setempat sekaligus salah satu pemerhati Masjid Darussalam H. Margono mengungkapkan, lahan masjid dulunya lebih luas dengan yang ada sekarang ini. Seiring pembangunan jalan, sebagian lahan masjid dipangkas. "Masjid ini dulu ukurannya lebih besar dari yang sekarang. Dulu itu masjid ini sampai ke jalan umum di depan. Tapi karena ada kepentingan pemerintah sekitar tahun 70-an untuk melebarkan jalan, sehingga masjid ini terpotong. Kira-kira 3 meter untuk kepentingan jalan umum," tuturnya.


Sedikitnya masjid ini telah melewati 6 tahap renovasi sejak saat pertama kali didirikan. Sehingga bentuk masjid yang dahulu sangatlah jauh berbeda seperti sekarang yang kapasitasnya dapat menampung 600 jemaah.


"Dulu bentuknya bisa dibilang lucu karena bagian depan langgar sama sekali tidak memiliki ventilasi udara seperti jendela. Jadi dulu bagian depan masjid hanya pintu saja. Kapasitasnya 600 jamaah ukurannya 10 kali 15 meter. Kalau salat hari biasa itu bisa sampai 5 atau 6 saf," terangnya.


Hingga saat ini masjid ini memiliki tradisi berbeda pada masjid lainnya. Ialah kegiatan menjaga silahturahmi yang dilangsungkan pada minggu pagi. Di masjid ini, setiap minggu pagi jemaah diwajibkan berkumpul memenuhi masjid untuk berbincang-bincang sambil menyantap sajian makanan dari iuran warga. Hal itu dilakukan karena masyarakat setempat percaya lewat perkumpulan, solidaritas masyarakat dalam menjaga silahturahmi tetap terjaga.


“Itu dilakukan selama Ramadan. Minggu pagi kami mengadakan kegiatan silahturahmi jemaah masjid. Jadi minggu pagi kami berkumpul di sini menikmati sarapan sambil berbincang-bincang. Istilahnya untuk menjalin silahturahmi saja," pungkas H. Margono. (***/lim)


 

Editor : Azwar Halim